Serat Umbi, Ampuh Atasi Sindrom Metabolik

Umbi-umbian - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
10 September 2019 23:17 WIB Bernadheta Dian Saraswati Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. Dr. Dra. Sunarti, M.Kes berhasil menemukan khasiat serat umbi untuk mengatasi sindrom metabolik. Sindrom metabolik merupakan gangguan kesehatan yang memicu penyakit kencing manis (DM tipe 2), jantung koroner dan cacat lain.

“Selama ini, terapi nutrisi seringkali disarankan bagi penderita penyakit tersebut. Namun, jika suatu makanan digunakan sebagai terapi nutrisi, maka jenis dan jumlah komponen harus tepat karena perbedaan jenis dan jumlah komponen dalam makanan akan mempengaruhi jalur metabolisme yang berbeda,” ungkapnya saat menjalani pidato pengukuhan Guru Besar FK-KMK UGM bidang Biokimia, Senin (9/9/2019) di Balai Senat UGM, dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Selasa (10/9/2019). 

Penyebab utama sindrom metabolik adalah diet tinggi lemak jenuh, tetapi rendah serat, obesitas, dan aktivitas fisik yang rendah serta gaya hidup yang kurang baik. Selama tiga abad terakhir, di berbagai belahan dunia terjadi perubahan pola makan dan aktivitas yang sangat cepat. Peningkatan prevalensi penyakit sindrom metabolik bahkan disinyalir akan menyebabkan kematian nomor tujuh di India dan Asia pada 2030.

Sebagai gambaran, pada 2013, jumlah penyandang obesitas dilaporkan 14,8% dengan obesitas sentral (perut) 26,6%. Pada tahun 2018 terjadi peningkatan jumlah obesitas menjadi 21,8% dan obesitas sentral 31,0%. Angka tersebut juga diiringi dengan peningkatan penderita kencing manis (DM tipe 2) dari 6,9% menjadi 10,9%. “Makanan kaya serat dan lemak tak jenuh ganda dapat menurunkan risiko tersebut”, tegas Prof. Sunarti.

Manfaat serat pangan sejatinya sudah diteliti sejak tahun 1930-an. “Walaupun serat pangan tidak mengandung zat gizi, namun serat makanan mempunyai fungsi yang tidak dapat digantikan oleh zat lain dan merangsang perbaikan kondisi fisiologis dan metabolik”, imbuhnya. Bahkan, hasil Riskesdas pada 2018 melaporkan bahwa sekitar 95,5% penduduk Indonesia(usia>5 tahun) kurang asupan buah dan sayur.

Prof. Sunarti dalam paparannya juga menegaskan bahwa lingkungan dan kualitas maupun kuantitas makanan menjadi faktor kuncui yang mempengaruhi kesehatan seseorang. Oleh karenanya, dengan mengkonsumsi makanan fungsional mampu untuk meningkatkan status kesehatan. Makanan fungsional merupakan makanan yang tidak hanya memenuhi fungsi gizi namun juga mengandung komponen bioaktif yang memberikan manfaat kesehatan dan mengurangi risiko penyakit. Makanan fungsional tersebut di antaranya adalah garut dan umbi gembili.

Garut, atau sagu betawi (Melayu), patat sagu (Sunda), larut (Jawa), marus (Madura), dan huda sula (Ternate), memiliki kandungan serat yang tinggi dengan indeks glikemik rendah. Seperti halnya penderita kencing manis yang mengkonsumsi emping garut 7 gram tiga kali sehari selama delapan minggu bisa mengalami penurunan berat badan dan lingkar pinggang. Emping garut ini juga mampu membuat rasa kenyang lebih lama, sehingga menurunkan keinginan makan atau asupan energi, sehingga memicu tubuh membongkar simpanan energi dalam jaringan lemak.

Sedangkan umbi gembili, juga berpotensi sebagai bahan makanan fungsional kaya serat. Dalam kesempatan ini, Prof. Sunarti juga memperkenalkan makanan ringan‘Kasabi’, yang terbuat dari garut dan labu kuning. Makanan ini mengandung serat 11,7% dan beta karotin 3132ug% dengan nilai indeks glikemik 69,14 (sedang). “Semakin rendah nilai indeks glikemik makanan maka peningkatan kadar gula darah semakin lambat,” pungkasnya.