Banyak Membaca Berita Buruk, Apa Dampaknya untuk Kesehatan?

Ilustrasi - Istimewa
30 September 2019 20:37 WIB Ria Theresia Situmorang Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Indonesia sedang dilanda berbagai aksi unjuk rasa dan konflik. Pemberitaan tentang masalah tersebut memenuhi media massa hingga media sosial. Dengan banyaknya berita buruk yang datang silih berganti belakangan ini, banyak orang menyakini saat ini kondisi keamanan di Indonesia tengah diambang krisis.

Situasi ini dampat berdampak pada lingkungan, dan juga ternyata mempengaruhi kesehatan mental kita. Ada apa dengan mental kita? Apa mengonsumsi berita buruk dapat menyebabkan gangguan mental?

Dikutip dari Time, berdasarkan survey yang dilakukan American Psychological Association, mengonsumsi banyak berita khususnya berita buruk memiliki banyak kerugian.

Lebih dari setengah orang Amerika menyebut mengonsumsi banyak berita melalui media sosial atau website berita membuat mereka stres, panik, kurang tidur hingga bahkan kurang tidur.

“Cara berita ditampilkan dan cara kita mengakses berita berubah signifikan dalam 15 hingga 20 tahun terakhir. Hal ini yang seringkali membuat kesehatan mental kita terganggu,” ujar Graham Davey seorang profesor psikologi dari Sussex University di Inggris dan editor untuk Journal of Experimental Psychopathology.

Dalam temuannya, Davey menyebut pemberitaan negatif di televisi contohnya dapat mengubah mood seseorang dalam sekejap menjadi sedih atau bahkan stres.

Jangan remehkan stres, karena hormon yang berhubungan dengan stres yakni kortisol dapat menyebabkan beberapa penyakit kronis lainnya yang jika diidap dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan penyakit seperti rheumatoid arthritis, penyakit jantung dan masalah kesehatan serius lainnya.

Namun ahli komunikasi dan media menyebut efek pemberitaan bisa mempengaruhi kesehatan tergantung pada masing-masing individu.

“Berita bukanlah pathogen yang menular seperti antraks atau virus ebola yang berdampak pada manusia dalam cara yang relatif mudah ditebak. Sangat rumit memprediksi bagaimana orang merespon terhadap suatu berita,” ujar Chris Peters, profesor media dan komunikasi Aalborg University Copenhagen.

Intinya, jika Anda sudah tahu emosi Anda banyak dikontrol oleh apa yang Anda konsumsi melalui informasi, cobalah untuk mulai tarik nafas sebentar dan melakukan aktivitas menyenangkan lain seperti mendengarkan musik, olahraga atau menonton cerita komedi.

Sumber : Bisnis.com