Pengetahuan Kesehatan Seksual dan Reproduksi di Kalangan Remaja Sangat Minim

Kegiatan Media Training oleh Rutgers Indonesia dalam rangka The First International Conference on Indonesia Family Planning and Reproductive Health di Sahid Jaya Hotel, Sabtu (28/9/2019). - Harian Jogja/ Salsabila Annisa Azmi.
30 September 2019 09:17 WIB Salsabila Annisa Azmi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang disediakan pemerintah tidak populer di kalangan remaja. Para remaja lebih nyaman bertanya tentang kesehatan seksual dan reproduksi pada orang tuanya, namun orang tuanya kebingungan menjelaskan kepada mereka.

Pemerintah perlu menyediakan program yang sesuai dengan kebutuhan generasi remaja awal dengan melibatkan remaja dalam pengambilan keputusan, juga mendampingi orang tua terkait tata cara pemberian materi kespro.

Anggriyani Pinandari dari Pusat Kajian Kesehatan Reproduksi UGM memaparkan survei yang dilakukan oleh Global Early Adolescent Study kepada 2.477 remaja perempuan dan 2.207 remaja laki-laki dengan rentang usia 12 hingga 13 tahun sebanyak 93%. Mereka disodori beberapa pertanyaan tentang kesehatan seksual dan reproduksi. Menurutnya, hasilnya masih sangat memprihatinkan.

“Hasilnya sangat jauh dari harapan, bahkan kami yakin angka sebenarnya lebih rendah daripada hasil survei. Sengaja ditampilkan berdasarkan jenis pertanyaan, karena angkanya [remaja yang menjawab dengan benar] terlalu sedikit,” kata Anggi dalam acara Media Training oleh Rutgers Indonesia dalam rangka The First International Conference on Indonesia Family Planning and Reproductive Health di Sahid Jaya Hotel, Sabtu (28/9/2019).

Hasilnya hanya 44,7% remaja yang mengetahui bahwa perempuan bisa hamil saat berhubungan seksual untuk pertama kali. Sebanyak 38% mengira bahwa perempuan dan laki-laki berpelukan dan berciuman bisa menyebabkan kehamilan, hanya 31% percaya bahwa menggunakan kondom bisa mencegah kehamilan, 16% mengetahui tentang pil kontrasepsi, dan hanya 15% yang mengetahui di mana mereka bisa mengakses kondom.

Ia menambahkan pengetahuan kesehatan reproduksi dan seksual dibutuhkan agar remaja melalui masa peralihan dengan selamat. Artinya, mereka paham batasan tubuh mereka dan risikonya apabila batasan-batasan tersebut dilampaui. Namun di sisi lain, pemerintah sebagai fasilitator pendidikan reproduksi dan seksual di kalangan remaja masih kurang populer.

Hanya 31,2% dari semua responden yang mengetahui adanya Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) dan hanya 25,3% mengetahui adanya Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) yang ada di puskesmas. Dari mereka yang mengetahui, hanya 32,1% yang pernah mengunjungi PIK-R dan 60,8% pernah mengunjungi PKPR.

“Mereka berkata, mereka sering merasa malu mendatangi layanan kesehatan itu karena puskesmas identik dengan orang sakit. Mereka tidak kesana kalau tidak sakit. Beberapa juga merasa mendapat stigma dari petugas kesehatan, apalagi perempuan, kalau perempuan bertanya tentang kesehatan seksual dan reproduksi pasti hamil luar nikah,” katanya.

Ia mengatakan remaja lebih merasa nyaman menanyakan pertanyaan seputar kesehatan reproduksi dan seksual kepada orang tua. Namun orang tua seringkali tidak punya ide untuk menjelaskannya secara rinci tanpa membuat anaknya salah mengartikan. Terkait hal tersebut, kata dia, pemerintah dan NGO juga wajib membimbing para orang tua agar mampu memberi pendidikan itu kepada anak-anak mereka.

Selain itu data remaja di pemerintah rata-rata hanya mencatat mulai dari usia 15 tahun, sebelum itu tidak ada. Padahal data itu harus disurvei agar program pemerintah terkait kesehatan reproduksi dan seksual sesuai kebutuhan generasi awal remaja benar-benar sesuai kebutuhan mereka.

“Pelibatan peneliti muda saat survei juga harus dilakukan, sebab masa muda mereka sama dengan responden yang juga anak muda. Anak-anak muda pun, mulai sekarang harus dilibatkan dalam pengambilan kebijakan terkait hal ini,” ujarnya.