Duh...88,8% Masyarakat Indonesia Punya Gigi Berlubang

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi UGM Ahmad Syaify (dua kanan) dan Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia Ratu Mirah Afifah (kanan) dalam acara Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2019 , Rabu, (2/10 - 2019) di RS Gigi dan Mulut (RSGM) Prof. Soedomo Fakultas Kedokteran Gigi UGM.
02 Oktober 2019 22:57 WIB Adit Bambang Setyawan (M128) Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Gigi berlubang atau karies masih menjadi masalah kesehatan gigi dan mulut terbesar di Indonesia. Merujuk data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), sebanyak 88,8% masyarakat Indonesia memiliki masalah gigi berlubang. Permasalahan ini juga dialami 92,6% anak Indonesia yang berumur lima tahun.

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi UGM, Ahmad Syaify, mengatakan mayoritas masyarakat Indonesia belum memiliki kesadaran memeriksakan kesehatan gigi ke dokter. Dalam skala nasional tingkat kesadaran warga memeriksakan gigi hanya 10,2%, di Jogja cukup baik mencapai 16,4%.
Masyarakat lebih memilih mencari obat sendiri untuk menyembuhkan sakit gigi yang dialami. Padahal kata dia, itu bukan solusi tepat. “Karena gigi merupakan satu-satunya jaringan yang tidak bisa diregenerasi,” jelas Ahmad Syaify dalam acara Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2019 yang digelar di RS Gigi dan Mulut (RSGM) Prof Soedomo, Fakultas Kedokteran Gigi UGM, Rabu (2/10/2019).

Selain itu masyarakat belum tahu waktu menyikat gigi yang benar, walaupun dalam survei sudah 94,9% masyarakat menyikat gigi dua kali sehari. Kendati demikian, dalam skala nasional hanya 2,8% yang menyikat giginya dengan benar. Adapun di Jogja tercatat sebanyak 6% masyarakat menyikat gigi dengan benar. “Sikat gigi yang benar itu setelah makan pagi dan malam hari ketika mau tidur,” kata Ahmad Syaifi.

Pemerintah kini menargetkan Indonesia bebas karies gigi pada 2030 meski target tersebut terbilang sulit dicapai. “Indonesia bebas karies 2030 itu artinya 11 tahun lagi, kira-kira bisa tidak ya?,” kata dia.

Sulitnya pencapaian target tersebut menurutnya karena masalah karies di Indonesia saat ini cukup tinggi. “Selain itu masih ada masalah gigi dan mulut sebanyak 57 persen. Jika masyarakat indonesia jumlahnya ada 250 juta, kira-kira ada 150 juta yang mendapat pelayanan tepat dengan dokter yang kompeten,” jelasnya lagi.

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk lebih peka terhadap masalah gigi. Masyarakat perlu menumbuhkan kesadaran memeriksakan gigi, tidak harus menunggu sakit. Pasalnya kata dia, sebagian sakit gigi ada yang tidak menimbulkan gejala maka masyarakat harus perlu lebih hati-hati karena bisa menimbulkan infeksi.

Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia, Ratu Mirah Afifah, mengatakan tingginya masalah karies di Indonesia sangat memprihatinkan terutama yang dialami anak-anak. Pasalnya kondisi gigi susu sangat memengaruhi kondisi dan struktur gigi permanen di masa mendatang.