18 Orang Meninggal karena Rokok Elektrik, Ribuan Lainnya Alami Gangguan Paru-Paru

NCIG International memutuskan untuk berinvestasi di Indonesia melihat potensi pasar rokok elektrik yang besar. - FOTO REUTERS
04 Oktober 2019 15:07 WIB Ria Theresia Situmorang Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Rokok elektrik kini semakin marak ditemukan di masyarakat. Di Amerika Serikat, jumlah pasien yang mengalami dampak gangguan paru  karena penggunaan rokok elektrik  atau vape semakin meningkat.

Dikutip dari Straits Times, lembaga kesehatan Amerika Serikat saat ini mencatat 1.080 orang mengalami gangguan paru, dan 18 orang dilaporkan tewas.

Semua kasus tersebut merujuk pada kebiasaan mengonsumsi rokok elektrik. 

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, Robert Radfield, menyebut kasus rokok elektronik ini seperti fenomena gunung es yang lambat laun akan memakan korban lebih banyak lagi. 

"[Rokok elektronik] memiliki ancaman kesehatan bagi publik di Amerika khususnya anak muda," tegasnya. 

Robert  menyebut ada peningkatan 275 kasus terkait vape sejak pekan lalu, merupakan kombinasi dari pasien baru mengalami gejala gangguan paru-paru dalam dua  pekan terakhir, dan pasien yang sudah teridentifikasi mengalami gangguan paru sebelumnya.

Di antara 578 pasien yang diwawancarai tentang zat yang telah mereka gunakan dalam kandungan rokok elektrik, 78 persen dari mereka mengakui penggunaan produk vape dengan zat tetrahydrocannabinol (THC) dengan atau tanpa tambahan zat nikotin. Padahal, THC sendiri diketahui adalah zat psikoaktif utama ganja.

Wabah kasus terkait vape pertama kali dilaporkan pada bulan Juli 2019, setelah 13 tahun vape eksis di Amerika Serikat. 

Sejauh ini ada beberapa negara bagian di Amerika Serikat yang sudah melarang penggunaan rokok elektrik seperti New York dan Michigan, diikuti Massachusetts yang baru-baru ini juga melarang warganya menggunakan vape.

Sumber : Bisnis.com