Diet Whole Food Plant Based, Apa Itu?

dr Andry Hartono, Sp.GK, dokter di Rumah Sakit Panti Rapih
05 Oktober 2019 04:37 WIB MediaDigital Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Diet Whole Food Plant Based (WFPB) merupakan diet semi-vegetarian yang mungkin cocok dengan pola makan penduduk kepulauan di daerah tropis seperti Indonesia.

Diet ini didominasi nabati yang terdiri dari sayuran tropis, buah tropis, kacang-kacangan baik legumes seperti kacang merah dan kedelai maupun nuts (kacang-kacangan berkulit keras seperti kacang koro, kacang bogor, kenari dan lainnya), whole grains and sereal seperti beras merah, dan roots (umbi-umbian seperti ubi dengan beragam warna, talas, kimpul dan lainnya). Melalui diet ini gangguan metabolik seperti obesitas sentral yang menuju pada diabetes, dislipidemia serta hipertensi kemungkinan dapat dicegah.

"Penggantian pola makan junk food barat dengan WFPB pedesaan diharapkan akan mampu mengurangi beban kesakitan noninfeksi," kata Andry Hartono, Sp.GK, dokter di Rumah Sakit Panti Rapih, melalui rilis, Jumat (4/10/2019).

Artikel berikut merupakan intisari tulisan Prof Colin Campbell dari bukunya The China Study yang terkenal dan diwujudkan dalam bentuk diet Whole Food Plant Based. Di sini ditekankan manfaat yang luar biasa dari gaya hidup sehat sehingga perubahan gaya hidup juga disebut sebagai upaya terapeutik.

Therapeutic Life style Changes (TLC)merupakan terapi gaya hidup sehat memiliki beberapa tujuan antara lain membuat hidup lebih lama dan lebih sehat, terlihat dan merasa lebih muda, memiliki energi yang lebih besar, memiliki berat badan yang ideal, memiliki kadar gula, lemak termasuk trigliserida dan kolesterol yang normal, mencegah dan bahkan memulihkan penyakit jantung, mengurangi risiko kanker reproduksi seperti kanker prostat dan payudara, menjaga ketajaman penglihatan di usia lanjut, mencegah diabetes, menghindari operasi karena sebab apa pun.

Selain itu mengurangi kebutuhan akan obat yang harus diminum seumur hidup, menjaga tulang agar cukup kokoh, mencegah impotensi, menghindari strok, mencegah batu ginjal, melindungi keturunan dari penyakit diabetes tipe 1, mengatasi sembelit, menurunkan tekanan darah, menghindari penyakit alzheimer, sembuh dari radang sendi (arthritis) dan banyak lagi lainnya.

Gizi merepresentasikan kombinasi kerja banyak komponen dalam makanan. Keseluruhan hasilnya melebihi penjumlahan masing-masing komponen tersebut dalam makanan. The China Study secara konsisten menyampaikan pandangan gizi yang bersifat holistik.

Komponen penting dalam prinsip ini cukup sederhana yaitu kita tidak bisa menipu diri kita dengan secara ketat hanya mengonsumsi makanan nabati. Sekali-sekali kita gagal karena tergoda makan protein hewani tetapi pilihan ini kita putuskan sendiri dan bukan mengikuti peraturan yang ketat. Makanan itu sendiri merupakan substansi yang kompleks ketika dipecah menjadi makronutrien dan mikronutrien. Karena itu, kita harus mengonsumsi makanan sebagai suatu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Suplemen bukan obat manjur untuk menghasilkan hidup sehat. Ikhtisar dalam buku The China Study pertama-tama mengatakan "Suplemen tidak akan menjamin kesehatan dalam jangka-waktu lama dan mungkin juga menimbulkan efek samping yang tidak terlihat. Lebih lanjut ketergantungan pada suplemen akan menyebabkan tertundanya perubahan diet yang menguntungkan dan kontinyu. Bahaya yang ditimbulkan oleh pola makan Barat yang salah tidak bisa diatasi hanya dengan minum tablet nutrien."

Pada hakekatnya tidak ada nutrien dalam makanan hewani yang dapat disediakan lebih baik daripada yang disediakan oleh makanan nabati. Prinsip ini terkait dengan pertanyaan yang sering diajukan oleh para pemakan daging yaitu dari mana para vegan mendapatkan protein? Pertanyaan ini valid meskipun timbul karena misinformasi. Banyak makanan nabati yang memberikan protein nabati dengan kualitas yang baik. Dan yang lebih penting, banyak rekomendasi gizi modern terlalu menekankan pentingnya protein sehingga seolah-olah hanya protein yang perlu kita perhatikan.

Zat gizi pada dasarnya dapat mengontrol efek zat kimia berbahaya yang merugikan. Banyak dari kita mendambakan kambing hitam sebagai sasaran untuk mengalihkan kesalahan kita. Kita tidak mau tahu kalau makanan kesukaan kita yang sehari-hari kita konsumsi itu menjadi sumber masalah hanya karena kandungan berbagai zat di dalamnya.

Setiap makanan yang kita konsumsi dan masuk ke dalam tubuh akan dipecah menjadi bahan atau substansi kimia dasar oleh tubuh kita. Substansi ini yang disebut *nutrien* (zat gizi) bisa membawa dampak yang positif atau negatif bagi tubuh kita. Meskipun ada zat karsinogen yang masuk ke dalam tubuh seperti *benzpiren* akibat pembakaran lemak (misalnya saat kita memakan daging bakaran dengan jelaga lemak yang melekat di permukaannya), namun tubuh kita masih mampu mengendalikan karsinogen tersebut selama jumlahnya tidak banyak dan sistem imun kita masih bekerja dengan baik.

Hal yang sama juga terjadi saat kita menghirup asap rokok atau asap kendaraan bermotor. Ketika kita makan burger dari satu merek terkenal dan bukan salad dari sayuran organik yang segar, kita harus siap dengan segala konsekuensinya. Konsekuensi kronis jangka-panjang akibat makan burger setiap hari bisa serius ketika kita juga tidak menyukai makan sayuran dan buah. Dalam jangka waktu pendek saja bisa terjadi konsekuensi negatif akibat zat aditif kimia berbahaya dalam burger selain akibat sifat adiktif (ketagihan) yang ditimbulkan oleh rasa gurih, asin dan manis secara berlebihan.

Gizi juga dapat mencegah penyakit dalam stadium dini (sebelum diagnosis dibuat), dapat memperlambat atau membalikkan perjalanan penyakit tersebut dalam stadium lebih lanjut (sesudah diagnosis dibuat).Prinsip ini adalah prinsip yang dipegang teguh oleh Prof Campbell dan menunjukkan kekuatan sejati dari keputusan yang positif tentang diet dan exercise. Beliau merasakan sendiri perubahan yang signifikan pada tubuhnya dan jiwanya ketika dietnya sehari-hari diubah menjadi diet whole foods, plant-based sementara aktivitas fisiknya ditingkatkan kepada bentuk-bentuk yang lebih alami seperti berkebun, bersepeda, berjalan atau berlari dan berenang setiap harinya.

Gizi yang betul-betul bermanfaat untuk mengurangi intensitas suatu penyakit kronis akan mendukung kesehatan secara keseluruhan. Begitu sering kita mendengar cerita dalam media massa tentang keterkaitan sayuran tertentu dengan penurunan risiko terkena suatu penyakit. Cerita ini jelas dapat membuat kita berpikir tentang kelebihan (atau kekurangan) pada nilai makanan tertentu tetapi sayangnya kita tidak berpikir tentang pentingnya gaya hidup whole foods plant based (WFPB) yang utuh. Pada kenyataannya, gaya hidup WFPB secara ilmiah kita ketahui memiliki korelasi dengan penurunan risiko terkena kanker, diabetes, obesitas dll.

Semua ini dialami oleh Prof Campbell yang mengimplementasikan gaya hidup WFPB pada dirinya sendiri; beliau bukan hanya berhasil menurunkan berat badannya tetapi rasa sakit dan gejala lainnya yang ditimbulkan oleh penyakit pada dirinya pun turut menghilang.

Gizi yang baik menghasilkan kesehatan di segala bidang eksistensi. Semua bagian tubuh saling berkaitan. Kesehatan yang holistik berlandaskan pada hasil pengamatan diri kita sendiri terhadap hubungan dari setiap bagian tubuh dan hubungan bagian tersebut dengan lingkungan. Diet yang sehat akan memperlihatkan dampaknya pada segala aspek kehidupan. Kecenderungan terkena penyakit seperti kanker akan berkurang lewat diet yang sehat sementara tubuh pun dapat menikmati kehidupan yang seutuh-utuhnya. Diet WFPB dengan disertai aktivitas rutin dan olahraga yang sehat tanpa stres fisik maupun emosional merupakan satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan kesehatan yang muncul setiap harinya.