Remaja yang Punya Hubungan Baik dengan Keluarga Lebih Kecil Kemungkinan Depresi

depresi - pheonixrises
10 Oktober 2019 07:37 WIB Tika Anggreni Purba Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Sebuah studi baru dari University of North Carolina, Amerika Serikat menunjukkan hubungan yang baik dengan keluarga ternyata bisa menekan risiko depresi selama masa remaja atau awal masa dewasa.

Para peneliti melakukan penelitian terhadap 18.185 orang sukarelawan sejak mereka berusia 15 tahun dan berlanjut hingga usia 32 dan 43 tahun. Dalam serangkaian survei ini para peneliti bertanya kepada mereka tentang dinamika keluarga dan gejala depresi.

Anak muda yang mengalami hubungan positif keluarga dan lebih sedikit konflik dengan orang tua lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami gejala depresi sejak remaja.

“Hubungan positif dalam keluarga dan konflik orang tua-anak yang rendah pada masa remaja tidak hanya melindungi remaja dari depresi, tetapi juga meningkatkan kesehatan mental saat dia beranjak dewasa,” kata peneliti Ping Chen dari University of North Carolina di Chapel Hill, Amerika Serikat.

Ada perbedaan hasil penelitian pada perempuan dan pria. Remaja perempuan mendapat manfaat lebih dari hubungan keluarga yang positif daripada pria. “Sementara itu konflik orang tua-anak yang rendah tampaknya menguntungkan pria untuk waktu yang lebih lama dibandingkan dengan perempuan,” ujarnya.

Untuk menilai dinamika keluarga, para peneliti bertanya kepada remaja tentang pengertian anggota keluarga terhadap mereka, seberapa sering mereka bersenang-senang dengan keluarga, dan seberapa sering keluarga memperhatikan mereka. Para peneliti juga bertanya tentang konflik orang tua-anak dan seberapa sering remaja berargumentasi dengan orang tua tentang perilaku mereka.

“Hubungan yang dekat dengan keluarga dapat menjadi sumber dukungan sosial dan emosional yang mendorong pengembangan kemampuan untuk mengatasi stres pada remaja,” tambah Chen.

Sementara remaja yang tidak memiliki hubungan keluarga yang mendukung mungkin tidak mengembangkan kemampuan untuk mengatasi stres. Mereka cenderung mengalami perasaan negatif dan harga diri yang rendah.

Studi ini tidak dapat menentukan apakah hubungan orang tua-anak menyebabkan depresi dan tidak menjelaskan mengapa keduanya mungkin terkait. Namun, muncul satu teori bahwa hubungan keluarga yang sehat memberikan dukungan sosial dan menciptakan  respons yang sehat terhadap situasi stres.

Apalagi remaja dan dewasa muda sering kali dihadapkan pada stres, mereka kemudian dapat mengatasinya dengan lebih mudah jika keluarga mendukung. Hal ini dinilai dapat mungkin membantu menghindari depresi. Tentu saja perlu dipahami bahwa penyebab depresi tidak seragam sehingga hubungan yang tidak sehat dengan keluarga mungkin hanya menjadi salah satu pemicunya saja.

Sumber : Bisnis.com