Ini 3 Penghambat Terapi Gangguan Jiwa ...

Ilustrasi penderita gangguan jiwa. - Antara
16 Oktober 2019 12:57 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pasien gangguan jiwa biasanya melakukan terapi gangguan jiwa untuk mengobati kondisinya. Jika dilakukan dengan tepat dan benar, bukan tak mungkin pasien gangguan bisa sembuh dari kondisinya.

Sayangnya, kurangnya pemahaman soal terapi gangguan jiwa bisa jadi penghambat kesembuhan pasien. Dikatakan psikiater dari RS Omni Alam Sutera, dr Andri, SpKJ, FACLP, secara garis besar ada tiga faktor penghambat dalam pelaksanaan terapi gangguan jiwa yang sering ditemuinya. Apa saja?

1. Kesalahpahaman dan mitos

Menurut dr Andri, pemahaman masalah gangguan psikiatri yang masih kurang membuat terapi tidak berjalan maksimal. Hal ini dipicu oleh ketidakpahaman pasien ataupun pendamping soal gangguan jiwa itu sendiri.

Beberapa hal yang lazim disalahpahami antara lain penyebab gangguan jiwa karena kurang ibadah, kekhawatiran soal obat-obatan gangguan jiwa, hingga biaya pelayanan yang mahal.

"Anggapan bahwa gangguan psikiatri semuanya pasti bisa sembuh dengan meningkatkan ibadah adalah salah satu hambatan orang yg mengalami gejala gangguan jiwa untuk menemui psikiater atau psikolog," kata dr Andri, dikutip dari Psikosomatik.net, Rabu (16/10/2019).

"Ada pula yang menganggap bahwa pengobatan ke psikiater atau psikolog mahal dan lama sembuhnya sehingga memerlukan dana yang besar. Hal ini tentunya tidak sepenuhnya benar, apalagi saat ini tersedia pelayanan psikiatri yang ditanggung BPJS Kesehatan di berbagai rumah sakit di Indonesia," ujarnya lagi.

2. Kurangnya dukungan keluarga

dr Andri menjelaskan peran dukungan keluarga sangat penting. Bahkan dala kampanye peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia beberapa hari lalu, WHO mengusung tema Depression: Let's Talk, yang bertujuan membangung komunikasi dan pemahaman antara pasien gangguan jiwa dengan keluarga dan pendampingnya.

Sayangnya, masih ditemui adanya keluarga yang justru tidak mendukung saat pasien ingin berobat ke psikiater. Stigma terhadap berobat jiwa yang menandakan seseorang 'gila' dan 'tidak waras' masih ditemui di masyarakat.

"Itulah mengapa saat ada kampanye dari WHO terkait Hari Kesehatan beberapa tahun yang lalu dengan tema Depression : Let’s Talk, saya pernah membahas, selain pasien depresinya diminta untuk mau bicara terkait keadaannya, orang yang mendengarkannya juga harus memahami apa itu depresi. Jika tidak memahami, maka kebanyakan orang akan memberikan 'premature advice', saran yang terlalu dini dan menggampangkan situasi pasien," tulis pemilik akun Twitter @Mbahndi ini.

Premature advice ini dikatakan dr Andri biasanya berupa saran agar pasien tidak berlebihan dalam menghadapi perasaannya, atau pasien diminta banyak-banyak bersabar. Hal ini ke depannya bisa membuat pasien enggan menjalani pengobatan, yang bisa membuat kondisi kejiwaannya memburuk.

3. Multifaktor penyebab gangguan jiwa

dr Andri menjelaskan, penyebab gangguan jiwa terdiri dari beragam faktor. Tidak seperti penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus atau bakteri, gangguan jiwa bisa datang karena faktor genetik, faktor psikologi, hingga faktor sosial dan lingkungan.

Pendekatan terapi gangguan jiwa harus mencakup faktor-faktor tersebut, yang tentunya berbeda-beda untuk setiap orang. Banyaknya faktor ini yang membuat pengobatan gangguan jiwa tidak mudah dan harus dijalani dengan tekun serta sepenuh hati oleh pasien.

"Satu yang perlu diingat adalah setiap orang dengan pengalaman dan faktor bawaan genetiknya akan mempunyai perbedaan dalam memandang suatu permasalahan, termasuk bagaimana cara mereka mengatasi stres dalam kehidupan sehari-hari," katanya lagi.

Ia pun menyebut mendengarkan tanpa menilai merupakan langkah paling tepat dalam membantu keluarga atau teman yang mengalami gangguan jiwa.

"Tidak heran walaupun sama-sama mengalami gangguan jiwa, setiap orang bisa mengalami perbedaan dalam gambaran klinis dan pendekatan terapinya nanti," tutupnya.

https://www.youtube.com/watch?v=5ws6uBtBaMU

Sumber : Suara.com