Advertisement

Lebih Memilih Cari Pengalaman, Generasi Milenial Lupa Investasi dan Dana Darurat

Dionisio Damara
Kamis, 31 Oktober 2019 - 10:57 WIB
Nina Atmasari
Lebih Memilih Cari Pengalaman, Generasi Milenial Lupa Investasi dan Dana Darurat Ilustrasi - Reuters/Bobby Yip

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA - Perkembangan zaman memengaruhi pola pikir manusia. Kaum milenial lahir pada masa dengan kemudahan akses dalam segala aspek, mulai dari pelayanan reservasi destinasi wisata, berbelanja, membeli makanan, sampai dengan lembaga keuangan.

Hal ini menyebabkan sebagian besar milenial memiliki tingkat konsumsi yang tergolong tinggi. Dengan menggunakan penghasilan bulanannya, kaum milenial lebih tertarik menggunakan pendapatan untuk membeli pengalaman dan lupa untuk menyisihkan pendapatan untuk investasi, dana darurat atau aset.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wharton Pension Research Council, milenial setidaknya harus menyisihkan 40 persen penghasilannya untuk masa depan, agar dapat menikmati standar hidup di masa pensiun yang layak.

Padahal, saat ini rata-rata milenial hanya menyisihkan kurang dari 10 persen penghasilannya untuk masa depan. Jika kebiasaan yang dimiliki oleh kaum milenial ini tetap dilakukan, maka sebagaian besar milenial terancam tidak bisa memilki aset.

Business Development Director Lakuemas, Junior Sambyanto, mengatakan bahwa kebanyakan generasi milenial hidup dengan memegang konsep You Only Live Once, sehingga memiliki tingkat impulsivitas sangat tinggi untuk masa kini dan melupakan masa depan.

Hasilnya, dana darurat dan investasi tentu tidak menjadi prioritas, meskipun generasi tersebut memiliki perhatian cukup tinggi terhadap pentingnya investasi dan ragam produk investasi.

"Cara investasi yang paling sering digunakan adalah dengan menabung. Sangat disayangkan padahal ada banyak sekali cara berinvestasi yang tentunya lebih menguntungkan bagi masa depan," ujarnya.

Dia melanjutkan, salah satu investasi yang menguntungkan ialah membeli emas. Sebab, emas merupakan produk instrumen jangka panjang yang menguntungkan karena nilainya  terus-menerus naik sampai saat ini.

Advertisement

"Bahkan ketika terjadi krisis moneter pada tahun 1998 emas merupakan komoditas yang menyelamatkan perekonomian bangsa. Melalui nilai emas yang tidak terpengaruh oleh inflasi, perlahan mampu menopang rakyat Indonesia," kata Junior.

Oleh sebab itu, lanjut Junior, Lakuemas hadir mengakomodasi jasa beli dan jual emas digital di Indonesia. Setiap transakasi dapat diakses dengan praktis melalui situs web, e-dagang, dan aplikasi gawai.

 

Advertisement

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Piala Dunia 2022

Advertisement

alt

Cerita Pelajar Gunungkidul Terseret Banjir, 1,5 Jam Berpegangan di Pohon Kayu Putih

Gunungkidul
| Rabu, 30 November 2022, 20:07 WIB

Advertisement

alt

Luhut Ingin Gilas Oknum yang Hambat Investasi Masuk Indonesia

News
| Rabu, 30 November 2022, 19:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement