Anak Jadi Pemalu? Ini Penyebabnya ...

Ilustrasi - Mirror.co.uk
31 Oktober 2019 13:37 WIB Mia Chitra Dinisari Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Seseorang pernah merasakan yang namanya malu. Namun apakah rasa malu itu sesuatu yang kita miliki sejak lahir, atau apakah sesuatu yang kita kembangkan berdasarkan pengalaman kita dengan orang lain?

Sebuah sejarah penelitian yang panjang menunjukkan bahwa temperamen atau gaya respons emosional seseorang terhadap lingkungan dapat pertama kali diidentifikasi pada bayi yang berusia empat bulan.

Ini diukur dengan menunjukkan kepada bayi beberapa mainan sederhana, seperti ponsel dengan beberapa hewan gantung, dan mempelajari bagaimana mereka bereaksi. Tes sederhana ini menunjukkan secara cukup konsisten bahwa bayi yang secara emosional tertekan sebagai respons terhadap ponsel yang digantung adalah yang paling mungkin menjadi pemalu ketika mereka bertambah tua (Kagan, 1997).

Bayi-bayi ini sangat peka terhadap segala jenis perubahan di lingkungan dan mungkin mudah marah bahkan dengan kegiatan yang paling rutin sekalipun, seperti dering bel pintu atau penggantian popok. Sebaliknya, bayi yang bereaksi positif terhadap perubahan ini, atau tidak bereaksi sama sekali, adalah yang paling mungkin menjadi sangat sosial ke depannya.

Perbedaan antara anak-anak pemalu dan supel bahkan dapat dilihat dalam biologi dan otak mereka (Barker, Reeb-Sutherland, dan Fox, 2014; Fox et al., 1995), menunjukkan bahwa rasa malu memiliki dasar biologis yang kuat dan mungkin menjadi bagian kepribadian seseorang sejak awal kehidupan.

Apakah ini berarti bahwa lingkungan tidak berperan dalam menghasilkan rasa malu? Dan apakah rasa malu adalah sesuatu yang harus diperhatikan?

Hanya karena temperamen memiliki dasar biologis, bukan berarti temperamen itu berubah menjadi batu. Temperamen anak dapat berubah, dan reaksi negatif bayi terhadap orang baru, benda, dan situasi bisa menjadi tidak terlalu ekstrem seiring berjalannya waktu.

Selain itu, tidak ada salahnya menjadi sedikit pemalu. Banyak anak memiliki temperamen yang digambarkan sebagai "lambat untuk pemanasan," dan hanya perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka sebelum mereka siap untuk terjun dan bergabung dengan kesenangan. Namun, perlu dicatat bahwa ada subset bayi, sekitar 10-15%, yang sensitif secara ekstrim. Ini adalah yang paling berisiko untuk pengembangan rasa malu, dan sebagian dari mereka (sekitar 40%) bahkan mungkin mengembangkan kecemasan sosial di kemudian hari.

Jadi, jika Anda memiliki anak yang sangat sensitif yang tidak melakukan pendekatan bahkan pada orang-orang dan tempat-tempat yang sudah dikenal setelah beberapa waktu, waspadai kemungkinan adanya masalah kecemasan sosial.

Selain itu, gaya pengasuhan yang mendukung dapat sangat membantu. Sebagai contoh, penelitian telah menunjukkan bahwa risiko bayi menjadi pemalu berkurang secara signifikan ketika mereka memiliki ibu yang sensitif dan menanggapi dengan tepat kebutuhan anak. Jadi, bahkan untuk bayi yang mudah marah ketika dihadapkan dengan situasi baru atau tantangan, memiliki orang tua yang responsif terhadap kebutuhan bayi dapat bertindak sebagai penyangga terhadap perkembangan rasa malu atau kecemasan sosial.

Demikian pula, mengasuh anak dapat memainkan peran dalam bagaimana anak-anak yang pemalu versus ramah mengembangkan rasa moralitas atau nurani selama masa kanak-kanak.

Misalnya, anak-anak yang pemalu, atau cenderung merasa cemas cenderung menjadi mudah marah ketika mereka ditegur karena melanggar aturan. Akibatnya, mereka benar-benar hanya membutuhkan (dan merespons dengan baik) bentuk-bentuk disiplin yang lembut, karena mereka mudah dibuat merasa bersalah atas pelanggaran mereka. Anak-anak yang jauh lebih ramah atau tak kenal takut tidak selalu merespons disiplin yang lembut dan membutuhkan sedikit lebih banyak perhatian ketika mereka melanggar aturan karena mereka tidak mudah merasa cemas sendiri.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bayi yang tumbuh dengan kepribadian pemalu  bisa terlihat di awal kehidupan, dan memiliki dasar biologis yang kuat. Tetapi, anatomi bukanlah takdir, dan jika Anda memiliki bayi yang benar-benar peka terhadap segala jenis perubahan di lingkungan, pengasuhan yang sama-sama peka yang memungkinkan anak untuk menyesuaikan diri dengan hal-hal baru dengan langkah mereka sendiri dapat membantu mereka mengembangkan rasa takut nantinya atau kecemasan dalam situasi sosial.

Dan meskipun rasa malu memiliki dasar biologis yang kuat, tidak ada jaminan bahwa Anda akan memiliki dua anak yang memiliki temperamen yang sama persis. Anda mungkin memiliki anak yang pemalu dan cemas, diikuti oleh anak yang nakal dan tak kenal takut. Jika itu masalahnya, penting untuk diingat bahwa menyesuaikan gaya pengasuhan Anda agar sesuai dengan kebutuhan anak adalah penting, dan apa yang berhasil untuk satu temperamen mungkin tidak berfungsi dengan baik untuk yang berikutnya.

Sumber : psychology today/Bisnis.com