Jangan Biarkan Anda Menjadi Salah Satu Penderita Strok

Esdras Ardi Pramudita, dokter di Rumah Sakit Panti Rapih. - Ist
01 November 2019 00:17 WIB Media Digital Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Strok merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia selain serangan jantung dan kanker.  Strok juga penyebab kecacatan yang paling sering. Kemajuan teknologi kedokteran diharapkan dapat menurunkan angka kematian dan kecatatan, teknologi mutakhir saat ini sudah diterapkan sebagai salah satu metode kuratif (pengobatan) bagi pasien yang mengalami  serangan jantung, strok dan kanker.

Pengobatan kuratif tidak selalu dapat menjadi andalan, karena tidak semua tindakan kuratif memberikan hasil yang baik atau kesembuhan yang sempurna. Pada kasus strok bila sudah terjadi kematian sel otak akibat sumbatan pembuluh darah di otak, maka sel-sel ini tidak akan dapat membaik sehingga menimbulkan kecacatan bagi pasien.

Lain hal nya bila kita mencegah sebelum serangan itu terjadi. Tindakan preventif atau mencegah lebih baik daripada mengobati karena tidak terdapat kerusakan sel atau jaringan yang dapat menimbulkan kecacatan. Tahun ini bertepatan dengan Hari Strok Sedunia pada 29 Oktober, mengajak semua orang untuk mencegah serangan strok pada diri masing-masing. Tema yang diangkat adalah Dont Be The One

Tema ini diangkat karena kegelisahan dunia lantaran satu dari empat orang dapat terjadi serangan strok. Bila ditarik ke 2012, saat ini risiko strok adalah satu dari enam, maka saat ini kejadian strok lebih banyak dibandingkan 2012.

Strok adalah sebuah final dari perjalanan penyakit. Penyakit-penyakit yang berjalan inilah yang menjadi faktor risiko terjadinya strok.  Faktor risiko strok terbagi menjadi dua bagian yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat diubah antara lain jenis kelamin, umur dan ras. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak terserang strok daripada wanita. Umur lebih dari 40 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi daripada umur yang lebih muda.

Faktor risiko yang dapat diubah melekat erat dengan gaya hidup kita sehari-hari. Faktor risiko ini antara lain kadar gula darah yang tinggi, tekanan darah yang tinggi, kadar kolesterol yang tinggi, obesitas, merokok, minum minuman beralkohol, kurang olahraga, dan riwayat penyakit strok atau penyakit jantung sebelumnya.

"Saat ini gaya hidup yang tidak sehat sering dijumpai dalam masyarakat. Hal ini disebabkan oleh tuntutan pekerjaan dan aktivitas harian yang padat menyebabkan semua orang menjadi kurang bergerak dan memilih segala sesuatu yang mudah dan cepat saji. Kadar gula darah, tekanan darah, kolesterol dan obesitas dipengaruhi oleh pola diet yang kurang baik meskipun juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Memilih diet yang instan dengan kalori tidak terukur dapat menyebabkan masalah-masalah di atas," kata dokter Esdras Ardi Pramudita, dokter di Rumah Sakit Panti Rapih.  

Tekanan darah harus dijaga di bawah 140/90 mmHg. Kolesterol total di bawah 200mg/dl. LDL kolesterol di bawah 150 mg/dl pada orang normal dan di bawah 100mg/dl pada orang yang pernah mengalami strok sebelumnya. 

Gula darah juga harus menjadi perhatiaan utama karena penderita diabetes di Indonesia terus meningkat. Gula puasa sebaiknya kurang dari 126 mg/dl dan gula dua jam setelah makan tidak lebih dari 200mg/dl. 

Merokok dan minum minuman beralkohol juga menjadi salah satu penyebab strok. Merokok merupakan salah satu faktor risiko yang sering ditemukan pada pasien strok usia muda (kurang dari 40 tahun).  Seseorang yang pernah mengalami strok atau serangan jantung memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadi serangan strok ulang.

Prinsip dasar mencegah serangan strok adalah mengendalikan semua faktor risiko strok yang ada. Karena pencegahan kejadian strok lebih baik daripada mengobati pasien yang mengalami strok. Pencegahan selalu dimulai dari diri kita masing-masing, apabila kita menyadari adanya faktor-faktor risiko strok dalam diri kita maka jangan diabaikan, kerena serangan strok tidak dapat diprediksi kapan akan datang. Oleh sebab itu lakukan pencegahan mulai sekarang. Jangan biarkan kita menjadi salah satu pasien strok.