Begini Perawatan Luka Ulkus Kaki pada Penderita Diabetes

Dokter FX. Suharnadi, SpPD-KEMD, Dokter Penyakit Dalam-Endokrinologi RS Panti Rapih-Ist - RS Panti Rapih
22 November 2019 06:57 WIB Media Digital Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Ulkus kaki diabetes merupakan salah satu komplikasi kronik diabetes yang memerlukan perawatan jangka panjang dan tidak jarang berakhir pada amputasi.

Perawatan luka tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan membutuhkan kesabaran baik dari pasien maupun tenaga medis yang merawatnya. Ulkus kaki diabetes adalah luka yang terjadi pada penyandang diabetes di mana lokasi luka adalah daerah mata kaki sampai ujung jari kaki.

"Perawatan ulkus kaki diabetes ini memerlukan waktu lama, biaya yang besar dan sering berakhir dengan amputasi. Kualitas hidup pasien akan menurun, produktivitas juga akan menurun," kata Dokter FX. Suharnadi, SpPD-KEMD, Dokter Penyakit Dalam-Endokrinologi RS Panti Rapih, melalui rilis, Kamis (21/11/2019).

Perjalanan alamiah luka pada kaki diabetes adalah melalui komplikasi pada pembuluh darah besar (makrovaskuler) maupun pembuluh darah kecil (mikrovaskuler).

"Hambatan aliran darah dapat memengaruhi suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan tepi. Pada pembuluh darah kecil yang menyempit dapat memengaruhi oksigenasi dan nutrisi ke jaringan saraf tepi. Komplikasi ini yang dinamakan Neuropati perifer," kata dia.

Keluhan yang sering muncul adalah rasa kebas pada kaki, mati rasa, seperti terkena aliran listrik, kesemutan, kram, rasa terbakar atau rasa dingin yang sangat pada telapak kaki.

Rasa kebas pada kaki atau berkurangnya sensasi sakit pada kaki dapat menyebabkan timbulnya luka kecil yang tidak disadari dan dirasakan oleh pasien. Apabila luka tersebut mengalami infeksi maka mulailah terjadi ulkus kaki. Adanya hambatan aliran darah ke jaringan luka menyebabkan nutrisi, oksigenasi maupun transfer obat ke jaringan luka menjadi terhambat.

Hal ini yang mendasari mengapa ulkus kaki diabetes membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Penyandang diabetes perlu diperiksa kakinya setiap kali kunjungan ke dokter. Dengan melihat adanya kehitaman pada ujung jari, perabaan kulit yang dingin, berkurangnya pulsasi pada pembuluh darah kaki ataupun luka kecil yang tidak kunjung sembuh menandakan ada tidaknya sumbatan pada pembuluh darah kaki.

Apabila terdapat luka pada kaki penyandang diabetes maka yang penting dilakukan adalah perawatan luka yang baik, regulasi kadar gula darah supaya normal, pemberian antibiotik yang sesuai dan pemberian antiplatelet agar aliran darah ke luka menjadi lebih lancar. Untuk mengetahui ada tidaknya hambatan aliran darah ke kaki dapat dilakukan pemeriksaan ABI (Angkle Brachial Index) yaitu membandingkan tekanan darah sistolik antara kaki dengan lengan, pemeriksaan USG pembuluh darah maupun angiografi.

Jika didapatkan sumbatan pada pembuluh darah besar dapat dilakukan angioplasty untuk melebarkan lumen atau lubang pembuluh darah. Penanganan luka pada penyandang diabetes ini memerlukan pendekatan multidisipliner antara lain dokter bedah, dokter spesialis radiologi, ahli gizi klinik, ahli podiatri (perawatan kaki), dokter penyakit dalam dan fisioterapi.

Dengan cara tersebut diharapkan dapat menekan tingginya angka amputasi. Perawatan luka disesuaikan dengan kondisi luka, apabila luka terlihat basah, bernanah maka diperlukan obat atau bahan perawatan luka yang dapat menyerap cairan eksudat tersebut, sebaliknya apabila luka terlihat kering diperlukan obat yang dapat menambah kelembapan luka.

Antibiotik diberikan dengan spektrum yang luas sambil menunggu hasil pemeriksaan kultur dan sensitivitas tes dari cairan luka atau dari darah. Untuk pengendalian glukosa darahnya lebih baik jika menggunakan insulin terlebih dahulu. Target glukosa darah yang diharapkan adalah antara 100-130 mg/dL untuk kadar glukosa puasa dan < 180 mg/dL untuk kadar glukosa setelah makan. Apabila luka tampak kotor dengan jaringan nekrotik maka diperlukan debridement atau pembersihan luka oleh dokter bedah di kamar operasi.

Beberapa cara terbaik untuk mencegah agar tidak timbul luka pada kaki adalah jangan menggunakan sepatu yang terlalu sempit, cara memotong kuku jangan terlalu dalam, jangan mengurangi penebalan kulit dengan benda tajam dan selalu menggunakan alas kaki. Apabila kaki cenderung basah sebaiknya gunakan handuk khusus kaki dan jika terdapat jamur pada sela-sela jari sebaiknya diberikan krim antijamur topical setelah kulit dikeringkan. Mencegah lebih baik dari pada mengobati.