Hati-Hati, Hobi Minum Teh Manis Bisa Berujung Bahaya

Ilustrasi cek gula darah - Reuters
26 November 2019 17:27 WIB Tim Harian Jogja Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Gaya hidup masa kini yang dijalani anak-anak muda kekinian mendorong mendekati bahaya diabetes melitus tipe 2. Diabetes yang terjadi karena perilaku sehari-hari yang tak sehat.

Heti Isnaini, 20, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja dinyatakan menderita diabetes melitus tipe 2 satu tahun lalu. Diabetes melitus tipe 2 adalah tipe diabetes yang mayoritas terjadi karena gaya hidup tak sehat.

Awal mula Heti merasa ada yang salah dari kondisi tubuhnya justru saat di ruang kelas kuliah. Tak peduli saat itu dia banyak beraktivitas atau tidak, hampir setiap kelas perkuliahan, dia tak bisa menahan kantuk dan tertidur di kelas.

"Dosen saya setelah kuliah mengajak ngobrol, ditegur baik-baik. Beliau tanya kenapa kok saya suka ketiduran? Saya terus terang saja selalu lemas dan ngantuk, kemudian beliau yang juga penderita diabetes itu menyarankan saya periksa cek gula darah," kata Heti, belum lama ini.

Setelah hasil periksa gula darahnya keluar, Heti didiagnosa diabetes melitus tipe 2, di mana penyebabnya adalah pola makan tidak sehat dan kurang olah raga. Heti mengakui dia memiliki rutinitas minum teh manis hangat setiap pagi dengan tiga sendok teh gula pasir karena dia sangat menyukai rasa manis.

Belum lagi sejak maraknya kedai kopi, Heti kerap memesan kopi dengan susu kental manis dan gula. Es kopi susu biasanya menjadi andalan Heti untuk bertahan dari rasa kantuk saat mengerjakan tugas sekolah maupun tugas saat dia sudah berkuliah.

Tak hanya itu, dia kerap menjadikan keripik yang sarat dengan monosodium glutamat sebagai camilan sore saat menonton film di laptopnya. "Aku juga kurang olah raga sih, karena malas bangun pagi sebenarnya. Udah keburu kuliah, jadi enggak sempat. Sekarang gaya hidup, pola makan sudah totally [sepenuhnya] berubah," kata Heti.

Heti mulai mengurangi konsumsi karbohidrat dari nasi dan menggunakan gula ramah diabetes seperti gula jagung untuk konsumsi sehari-hari. Jika dia ingin makan nasi, biasanya nasinya berupa nasi kering dan lama yang kadar gulanya lebih rendah. Sejauh ini, cara tersebut efektif bagi tubuhnya. Tentunya Heti juga mengonsumsi obat tablet sesuai dosis yang dianjurkan.

Hal yang sama juga dialami Agil Azis Handini, 21. Saat tahu kena diabetes melitus tipe 2 Agil sempat kaget. “Waktu itu aku periksa dalam kondisi sedang berpuasa. Dan hasilnya kadar gula darahku sangat tinggi. Kata dokter, jika pas berpuasa saja kadar gula darahnya tinggi, apalagi jika tidak berpuasa,” kata Agil.

Mahasiswi semester VII ini memang memiliki pola hidup yang kurang bijak dalam mengonsumsi gula. Ia mengaku setiap hari selalu mengonsumi teh manis. Selain itu ia juga gemar makan nasi hangat yang baru saja matang. Setelah mengetahui mengidap diabetes, Agil pun mengubah pola makannya.

“Sekarang sudah jarang minum teh manis, terus makan nasi yang dingin, yang sudah dimasak lama. Saya juga memperbanyak konsumsi sayur dan rajin berolah raga,” katanya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, Berty Murtiningsih mengatakan dibandingkan dengan 2018, jumlah penderita diabetes melitus rentang usia 15 hingga 20 tahun pada 2019 memang turun. Namun penurunan tersebut kurang signifikan.

"Perbedaan jumlah [penderita diabetes melitus] memang benar hanya 10 persen saja. Akan tetapi, ini kan pendataan 2019 belum selesai. Prediksinya hingga akhir tahun ini ya mungkin angkanya sama seperti 2018," kata Berty kepada Harian Jogja, Jumat (22/11/2019).

Kurang Aktivitas Fisik

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembayun Setyaning Astutie mengatakan penyakit DM tipe 1 yang terjadi pada remaja awal dan akhir dipengaruhi oleh kurangnya aktivitas fisik. "Beberapa dari mereka ada yang stres tinggi yang mengarah pada kebiasaan merokok dan diet tidak seimbang," kata Pembayun.

Perilaku stres yang salah satunya dipengaruhi oleh sibuknya aktivitas remaja, menurut Pembayun, juga dapat mengarah ke perilaku diet tidak seimbang. Sebab ketika stres ada kecenderungan mengonsumsi makanan lezat tanpa memperhitungkan takaran gizi. Apalagi kini diperparah dengan maraknya minuman manis bergula tinggi yang digandrungi oleh kaum remaja.

Pola hidup itu kemudian diperparah dengan minimnya olah raga dan aktivitas fisik seperti senam rutin. Pembayun mengatakan untuk mengatasi kurang populernya bagian dari Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) tersebut, Dinas Kesehatan DIY melakukan kampanye yang fokus pada generasi muda melalui media sosial, flash mob, dan juga melatih para guru sekolah negeri untuk memandu senam di setiap sekolah.

Konsultan Metabolik Endokrin dokter Fatimah Eliana menyatakanmasyarakat harus terus disadarkan akan horornya diabetes. “Diabetes adalah silent killer dan ibu dari segala penyakit atau induk dari berbagai penyakit degeneratif seperti stroke, hipertensi, jantung koroner dan disfungsi ereksi. Diabetes disebut silent killer karena banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya menyandang diabetes,” ungkapnya.

Ia memaparkan bahwa masyarakat harus sadar beberapa gejala diabetes karena terkadang tidak disadari. Beberapa gejala diabetes yang sering muncul antara lain rasa haus yang berlebihan, sering buang air kecil, sering merasa ngantuk, sering merasa lapar dan lemas.

Hal tersebut harus diawasi agar diagnosis dan tindakan cepat menjadi langkah awal untuk meminimalisasi potensi diabetes, karena semakin lama diabetes terdiagnosis dan diobati, akibatnya akan lebih buruk bagi penyandang diabetes.

Teknologi dasar seperti pemeriksaan gula darah umumnya telah tersedia di berbagai fasilitas kesehatan di negeri ini. Jika sudah terdeteksi, maka langsung diskusikan pola perawatan yang tepat dengan dokter, sehingga semakin kecil kerusakan akibat risiko diabetes. “Mengontrol diabetes adalah komitmen harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Karena dengan melakukan pengontrolan dan penanganan diabetes yang tepat dapat menghindari komplikasi akibat diabetes,” kata Eliana.