Remaja Pengguna Ganja Lebih Berisiko Kena Serangan Jantung

Ilustrasi.
27 November 2019 16:27 WIB Dionisio Damara Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Hasil penelitian menunjukkan remaja yang menggunakan kokain, amfetamin, dan ganja lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena serangan jantung daripada rekan mereka yang tidak menggunakan obat-obatan.

Dilansir dari Reuters, Selasa (26/11/2019), peneliti memeriksa data dari 2010-2014 terhadap 1.694 pasien usia 15 hingga hingga 22 yang dirawat di rumah sakit karena serangan jantung, ditambah hampir 9,4 juta pasien dirawat di rumah sakit karena alasan lain.

Secara keseluruhan, risiko rawat inap serangan jantung 3,9 kali lebih tinggi untuk pengguna kokain, 2,3 kali lebih tinggi untuk pengguna amfetamin, dan 30 persen lebih tinggi untuk pengguna ganja daripada non-pengguna.

Rikinkumar Patel dari Griffin Memorial Hospital di Norman, Oklahoma, dan rekannya yang menulis di Jurnal Kesehatan Remaja, mengatakan bahwa ganja dianggap oleh banyak orang memiliki risiko medis yang rendah.

"Meskipun semakin banyak bukti efek samping yang signifikan dari gangguan penggunaan ganja baik itu ketergantungan maupun penyalahgunaan," ujarnya.

Studi juga menunjukkan prevalensi lebih tinggi dan rasio peluang signifikan serangan jantung akut pada populasi anak muda yang menggunakan ganja.

"Hal itu seiring dengan potensi beban biaya karena keparahan penyakit, perpanjangan waktu rawat inap, dan penggunaan modalitas pengobatan yang lebih tinggi," tulis para peneliti.

Menurut National Institute on Drug Abuse (NIDA), ganja adalah obat terlarang yang paling umum digunakan di AS. Penggunaannya meningkat karena beberapa negara telah melegalkan ganja untuk penggunaan medis atau rekreasi.

Di sisi lain, semakin populernya ganja rekreasi juga menimbulkan kekhawatiran baru tentang potensi efek kardiovaskular, khususnya di kalangan kaum muda.

Efek jangka pendek dari kanabis dapat mencakup perubahan suasana hati, gangguan gerakan tubuh dan kesulitan berpikir, pemecahan masalah dan memori. Seiring waktu, obat ini juga dapat menyebabkan tantangan pernapasan, peningkatan denyut jantung dan berbagai gangguan mood.

Dalam studi saat ini, sekitar 15 persen orang muda yang dirawat di rumah sakit karena serangan jantung adalah pengguna ganja, sementara 2,5 persen menggunakan amfetamin, 6 persen menggunakan kokain, 2,6 persen menggunakan opioid, dan 28,4 persen menggunakan tembakau.

Studi ini juga menemukan mayoritas pasien dengan kebiasaan penggunaan narkoba, terkait dengan serangan jantung, rerata berusia 19 hingga 22 tahun, pria, dan berkulit putih.

Sumber : Bisnis.com