Susu Kental Manis Bukan Susu, Masih Banyak Orang Tua Berikan Sebagai Pengganti ASI

Susu kental manis - Istimewa
28 Desember 2019 10:47 WIB Dewi Andriani Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -  Badan Pengawaasan Obat dan Makanan sudah menetapkan Susu Kental Manis bukan termasuk kategori produk susu untuk pengganti kebutuhan gizi pada bayi dan balita.

Meski demikian, nyatanya hingga saat ini masih ada saja orang tua yang memberikan SKM kepada anaknya, bahkan dijadikan sebagai minuman pengganti Air Susu Ibu (ASI). Hal ini tidak lepas dari ketidaktahuan orang tua mengenai kandungan dan dampak buruk yang bisa menimpa sang buah hati.

Berdasarkan studi terbaru yang dilakukan Pimpinan Pusat Aisyiyah dan Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) sepanjang September hingga November 2019 di Provinsi Aceh, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Utara tentang konsumsi Susu Kental Manis dan Krimer, ditemukan sebesar 37% responden masih menganggap susu kental manis sebagai susu, bukan toping.

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mengatakan, dari hasil survey tersebut 73% responden mengetahui informasi susu kental manis sebagai susu dari iklan televisi. Iklan sebagai promosi produk yang ditayangkan berulang akhirnya mempengaruhi  persepsi masyarakat terhadap produk yang diiklankan.

“Salah satu contohnya adalah susu kental manis, selama ini diiklankan sebagai susu, maka hingga hari ini masih ada masyarakat yang mengkonsumsi susu kental manis sebagai susu, meskipun BPOM telah melarang sebab sejatinya susu kental manis adalah topping,” ujarnya.

Guna memberikan pengetahuan mengenai gizi dan kesehatan pada ibu dan anak, YAICI bersama , dua organisasi perempuan terbesar di Indonesia PP Muslimat NU dan PP Aisyiyah gencar mengkampanyekan cara bijak konsumsi susu kental manis.

Sepanjang tahun 2019 sebanyak 2.600 kader PP Muslimat NU dan PP Aisyiyah telah mendapat edukasi mengenai asupan gizi anak serta cara bijak mengkonsumsi susu kental manis. Edukasi untuk kader tersebut dilakukan di 13 kota dari 8 propinsi, yaitu Bandung, Banten, Lombok, Bekasi, Makassar, Lebak, Serpong, Cirebon, Bantar Gebang, Batam, Padang, Bali dan Jambi.

Dalam setiap edukasi dihadiri oleh rata-rata 200 kader di tingkat kabupaten/kota. Kader yang telah teredukasi kemudian meneruskan informasi kepada lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga dan lingkungan disekitar rumah.

“Diharapkan melalui kader-kader kedua organisasi ini, informasi mengenai gizi untuk anak dapat lebih efektif dan efisien sampai ke masyarakat, terutama ibu,” ujar Arief.

Tidak sedikit dari kader yang melakukan edukasi lanjutan melalui kegiatan pengajian atau arisan sehingga, meski baru 2.600 kader yang teredukasi tetapi masyarakat yang terpapar informasi tentang cara bijak mengkonsumsi susu kental manis sudah mencapai 5 juta.

Lebih lanjut, Arif menuturkan, sepanjang pelaksanaan edukasi, masih banyak ditemukan kader maupun masyarakat yang tidak secara lengkap mengetahui fakta tentang susu kental manis. Ada yang tahu susu kental manis tidak boleh dikonsumsi anak karena mendengar dari televisi, tapi tidak tahu alasannya.  Ada juga yang tidak tahu sama sekali dan masih memberikan susu kental manis sebagai minuman keluarga.

Sumber : Bisnis.com