Penderita Keratokonus dan Ulkus Kornea Bisa Ditangani dengan CXL

Kegiatan pelatihan terapi CXL untuk penanganan penyakit mata di RS Mata Dr. Yap, Rabu (8/1/2020). - Harian Jogja/Sunartono
09 Januari 2020 10:27 WIB Sunartono Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Penderita penyakit mata keratokonus dan ulkus kornea kini dapat ditangani dengan teknologi terbaru dengan peralatan terapi corneal collagenĀ  cross-linking (CXL). Populasi penggunaan teknologi ini di Indonesia masih sangat minim salah satu rumah sakit yang menerapkan adalah RS Mata Dr Yap Yogyakarta.

Direktur RS Mata Dr Yap Yogyakarta Eny Tjahtjani Permatasari menjelaskan penggunaan teknologi terapi CXL baru pertama kali diterapkan mulai Rabu (8/1/2020) dengan memberikan pelatihan kepada para dokter spesialis mata. Penggunaan CXL saat ini berkembang pesat dan menjadi terapi primer penanganan ekstasia kornea di seluruh dunia.

Terapi ini dilakukan dengan menggunaan komponen penting seperti riboflavin dan sinar UVA. Aktivitas senyawa ini menimbulkan reaksi yang memperkuat struktur kornea, mengubah struktur asam nukleat mikroorganisme sehingga dapat menjadi alternatif dalam menangani infeksi kornea.

"[Penggunaan CXL] Memang cukup lumayan [efektivitasnya] pada keratonokus kornea lonjong agar lebih datar lagi, kalau ada minusnya tinggi [terapi CXL] bisa menurunkan sekitar 0,75," katanya di sela-sela pelatihan di RS Mata Dr Yap, Rabu (8/1/2020).

Indikasi primer penggunaan terapi CXL adalah penyakit ektasia kornea yang ditandai dengan penipisan dan potrusi kornea. Kondisi ini sering mengakibatkan astigmagisme atau silinder dan myopia atau rabun jauh. Ekstasia kornea paling sering adalah keratokonus yang terjadi akibat pelemahan kolagen stroma sehingga bentuk kornea menjadi cekung. Keratokonus tahap awal memang gejalanya tidak signifikan tetapi terjadi secara progresif kelainan refraktif yang muncul seperti rabun jauh dan silinder.

"Kami kan ada lasik juga sehingga pasien yang akan dilasik yang silindernya terlalu tinggi, bisa dilakukan CXL akan menurunkan silindernya dulu," katanya.

Direktur Pelayanan dan Pendidikan RS Mata Dr Yap Erin Arsianti menambahkan selain keratokonus, ulkus kornea juga bisa ditangani efektif memakai alat ini. Penyakit ini jika dibiarkan akan menimbulkan komplikasi lebih lanjut terjadi perforasi (lubang) atau jebol pada bola mata. Dengan mesin terapi CXL bisa membuatĀ  fisik mata dipertahankan tetap bagus. Meski pun sulit melihat tetapi bentuk matanya masih bisa dipertahankan bolanya, sehingga tidak timbul komplikasi yang lebih buruk.

Secara konkret, peran CXL pada ulkus kornea dapat menginaktivasi bakteri, mempercepat fase pertumbuhan dan memperbaiki struktur kornea. "Untuk ulkus kornea saat pasien masuk rata-rata sudah sangat lanjut, sehingga memerlukan pengobatan CXL," katanya.

Erin mengatakan alat CXL di Indonesia populasinya masih sangat minim, berdasarkan catatannya hanya ada di Jogja dan Jakarta. Keberadaan terapi ini diharapkan menjadi sarana pengobatan mengingat tingginya pasien kelainan gangguan refraksi, di mana seperti keratokonus sendiri populasi pasiennya mencapai 5% hingga 10%.

"Saat ini CXL di Jogja ada di Sardjito dan di RS Mata Dr Yap. Kami bawa mesinnya lebih baru, lebih efektif dan efisien sehingga lebih akurat bisa membantu pasien ulkus kornea, minus, silinder tinggi," ujarnya.