Perempuan yang Jarang Bercinta Cepat Menopause

ilustrasi. - Reuters
16 Januari 2020 07:47 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, LONDON - Dalam sebuah studi terbaru menyebutkan bahwa kaum hawa yang jarang bercinta bisa berisiko tinggi alami menopause dini.

Dalam studi tersebut, dituliskan bahwa wanita yang melakukan aktivitas seksual setiap minggu sebanyak 28% akan mengalami menopause dibanding mereka yang melakukannya kurang dari sekali selama satu bulan.

Sementara mereka yang bercinta sebulan sekali 19% kecil kemungkinannya mengalami attained menopause atau 12 bulan tanpa haid, ketimbang yang hanya melakukannya kurang dari sekali sebulan.

Studi ini tidak melihat alasan kaitannya, penulis mengatakan bahwa isyarat fisik dari seks dapat memberi isyarat kepada tubuh bahwa ada kemungkinan untuk hamil. Tetapi bagi wanita yang tidak sering berhubungan seks di usia paruh baya, mengalami menopause yang lebih dini mungkin lebih masuk akal secara biologis.

"Jika Anda tidak akan bereproduksi, maka tak ada gunanya berovulasi, sebaiknya Anda menggunakan energi tersebut di tempat lain," ujar Megan Arnot, ketua penulis studi tersebut dan calon master jurusan antropologi evolusioner di University College London, dikutip dari CNN.

Arnot menjelaskan, selama ovulasi wanita rentan terkena penyakit karena sistem imun tubuh terganggu. Jika kehamilan tak terjadi karena berkurangnya seks, maka artinya tidak bermanfaat bagi tubuh untuk mengalokasikan energi pada proses ovulasi.

Sebaliknya, menurut Arnot, penemuan ini mendukung 'Hipotesis Grandmother', sebuah teori yang mengungkapkan bahwa menopause pada dasarnya muncul di manusia untuk mengurangi 'konflik reproduksi' antara generasi wanita yang berbeda dan memastikan cucu mereka bertahan hidup.

Aktivitas seksual tak hanya seks, namun juga masturbasi, sentuhan erotis, atau seks oral. Arnot menyebut ini pertama kalinya ada sebuah studi yang menunjukkan kaitan antara frekuensi berhubungan seks dengan kejadian menopause.

"Mekanisme hubungan antara seks dan menopause merupakan jalan yang menjanjikan untuk penelitian di masa depan dan dapat membuka pintu pada intervensi perilaku," tandas Arnot.

Sumber : detik.com