Seorang Warga Meninggal Akibat Leptospirosis, Dinkes Sleman Ingatkan soal PHBS

Ilustrasi hidup bersih dengan mencuci tangan. - REUTERS/Mariana Bazo
14 Februari 2020 08:07 WIB Abdul Hamied Razak Lifestyle Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Selama musim hujan tahun ini, warga dinilai abai meningkatkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Kondisi tersebut berdampak pada maraknya penyakit yang menyerang warga. Seperti demam berdarah dengue (DBD), leptospirosis, diare dan infeksi saluran pernafasan.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Novita Krisnaeni mengingatkan sejumlah penyakit yang mudah menyerang warga selama musim hujan. Selain DBD dan Leptospirosis, penyakit diare dan Ispa juga mudah menjangkiti warga.

"Ini yang saat ini banyak dialami warga. Kami kembali mengingatkan agar masyarakat lebih meningkatkan lagi PHBS. Apalagi musim hujan masih berlangsung," katanya, Kamis (13/2/2020).

Dinkes Sleman mencatat, hingga Februari ini kasus DBD tercatat 41 kasus. Paling banyak terjadi di wilayah perkotaan seperti Sleman dan perbatasan Ngaglik. Hal itu terjadi, lanjut Novi, dikarenakan beberapa faktor. Selain kondisi penduduknya padat, banyak kos-kosan dan rumah kosong yang ditinggal pergi. "Kondisi ini juga disebabkan masyarakat mulai melupakan PHBS. Warga harus peduli kepada lingkungan dan pemilik rumah yang tidak ditempati harus memastikan tidak ada genangan air yang dijadikan sarang nyamuk," katanya.

Selain masalah tersebut, Dinkes juga mengingatkan bahaya penyakit Leptospirosis. Pasalnya dari tujuh suspect kasus laptospirosis, satu orang dinyatakan meninggal dunia. Korbannya adalah salah seorang pedagang di Pasar Condongcatur. "Jadi bukan hanya petani yang harus waspada, pedagang di pasar sampai pemungut sampah harus waspada juga. Upayakan menggunakan pelindung saat memungut sampah agar terlindungi dari bakteri lepto," katanya.

Kepala Dinkes Sleman Djoko Hastaryo untuk meminimalisir kasus DBD kelompok-kelompok kerja mulai dari RT/RW hingga tingkat kecamatan sudah diaktifkan. Mereka aktif bergerak untuk memastikan tak ada sarang nyamuk DBD di lingkungannya. Termasuk juga gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik dan 3M plus.

"Terutama di kawasan dengan kepadatan penduduknya. Kami minta untuk meningkatkan kewaspadaan. Tidak hanya nyamuk penyebab DBD tetapi juga terhadap bakteri penyebab penyakit leptospirosis," katanya.

Dia berharap jika warga mulai mengalami gejala DBD maupun Leptospirosis untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Menurutnya, baik penyakit DBD maupun Leptospirosis bisa terdeteksi di Puskesmas. "Jangan ragu untuk memeriksakan diri ke Puskesmas. Lakukan rapid test, kalau positif, tidak usah ditunda untuk ditangani lebih lanjut," katanya.