Mengenal Crossfit, Olahraga yang Dilakukan Ashraf Sinclair sebelum Meninggal

Ashraf Sinclair - @ashrafsinclair
19 Februari 2020 08:47 WIB Nancy Junita Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Artis Ashraf Sinclair meninggal dunia pada Selasa (18/2/2020), dini hari. Suami penyanyi Bunga Citra Lestari (BCL) ini meninggal karena serangan jantung.

Menurut manajer BCL, Dodi bahwa sebelumnya Ashraf Sinclair tak memiliki riwayat penyakit jantung. Dia mengatakan bahwa suami BCL itu sebelumnya masih melakukan rutinitas sehari-harinya seperti biasa sebelum meninggal.

"Enggak ada (riwayat penyakit), dia sehat banget. Di antara kita semua, dia paling sehat," kata Doddy di rumah duka, Jakarta, Selasa (18/2/2020).

Ashraf Sinclair yang meninggal pada usia 40 tahun dikenal sebagai sosok yang menjaga pola makan dan menjaga kebugaran tubuhnya dengan olahraga Corssfit.

Beberapa jam sebelum meninggal, Ashraf Sinclair dikabarkan melakukan Crossfit di pusat kebugaran di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, Senin (17/2/2020) malam.

Dikutip dari laman Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI), bahwa Crossfit adalah olahraga yang akrab bagi mereka yang berambisi memiliki tubuh atletis maupun kalangan penggiat olahraga kebugaran.

Banyak pihak yang menganggap bahwa metode latihan ini adalah metode terbaik dan paling berhasil jika ingin memperoleh bentuk tubuh atletis dalam waktu yang singkat.

Apa Itu Metode Crossfit?

Crossfit adalah program latihan yang menggabungkan dua unsur sistem aerobic serta anaerobic serta menekankan perpaduan latihan interval intensitas tinggi, angkat beban, senam dan disiplin lainnya dalam format serupa latihan sirkuit.

Latihan ini terkenal dengan polanya yang keras dan ketat, contohnya dalam satu sesi latihan Anda akan diminta melakukan 100 push-ups, 100 pull-ups, 100 sit-ups dan 100 squats. Setiap harinya, latihan yang akan dilakukan adalah berbeda-beda, peralatan yang digunakan dalam metode latihan inipun bersifat beraneka ragam, mulai dari peralatan gym hingga ada yang menggunakan beban berat tubuh sendiri, tali tambang bahkan ban mobil.

Setiap orang diberikan beban yang sama saat menajalankan latihan crossfit, sistem ini lebih dikenal dengan “one size fit all”. Sehingga tidak ada perbedaan atau porsi latihan khusus bagi siapapun yang menjalankannya baik pemula atau orang yang sudah berpengalaman.

Dalam metode Crossfit,sendiri, jenis gerakan-gerakan yang dilakukan biasanya bersifat fungsional dan dilakukan dengan intensitas tinggi. Tujuannya adalah meningkatkan kekuatan otot, ketahanan jantung dan fkelsibilitas tubuh.

Karena intensitasnya yang tinggi dan jadwal latihan yang ketat, hasil dari latihan dengan metode Crossfit lebih terlihat jelas sehingga sering dianggap metode yang paling berhasil. Namun, untuk dua alasan tersebut juga, metode Crossfit diketahui merupakan metode latihan yang sangat rentan dengan cedera.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diketahui mengenai pola latihan Crossfit :

Melatih kekuatan otot dan stamina

Berbagai jenis gerakan dan variasi latihan yang dilakukan crossfit membuat kontraksi terjadi pada semua bagian otot sehingga kekuatan otot tentunya akan meningkat dan bentuk otot akan terlihat semakin jelas. Intensitasnya yang tinggi juga melatih stamina tubuh. Misalkan, Anda yang sebelumnya hanya bisa melakukan push-ups sebanyak 25 kali dalam satu menit, dua bulan selanjutnya bisa menyelesaikan 30 pus-ups dalam satu menit.

Bersemangat dan termotivasi

Pola latihan Crossfit biasanya dilakukan dengan membentuk suatu kelompok. Biasanya juga akan ada tantangan-tantangan yang diberikan pelatih kepada tiap peserta sehingga diantara mereka akan terjadi kompetisi. Kompetisi ini tentunya membuat latihan Crossfit yang sangat berat terasa lebih ringan dan menyenangkan. Dengan adanya kompetisi dan kerjasama antar tim, para peserta akan lebih bersemangat dalam menjalankan latihan dan lebih termotivasi untuk mencapai tujuannya.

Kedekatan emosional antar sesama grup

Seperti yang telah disebutkan diatas, pola latihan crossfit biasanya dilakukan dengan membentuk group atau kelompok. Terbiasa bersama saat melakukan latihan biasanya membangun kedekatan emosional antar sesame anggota kelompok. Kedekatan ini tentunya akan sangat bermanfaat. Antar sesama anggota yang sedang berjuang untuk mencapai tujuannya akan akan saling mengingatkan, saling menyemangati dan memotivasi.

Tingkat cedera

Isu mengenai tingkat cedera yang tinggi pada pola latihan Crossfit sudah menjadi rahasia umum. Jenis latihan kebugaran yang cukup keras ini dianggap rentan menyebabkan cedera, terutama musculoskeletal dan risiko rhabdomyolisis.

Tempo latihan yang cepat dan tekanan yang tinggi sering membuat para peserta terus memaksakan diri meskipun sebenarnya sudah kelelahan, sehingga menyebabkan kerusakan otot akibat olahraga intensitas tinggi yang terlalu lama.  Hal ini biasanya ditandai dengan air seni yang berwarna merah. Namun, hingga saat ini belum ada literature yang membahas lebih lanjut mengenai hal tersebut.

Dari jurnal yang diterbitkan oleh National Strenght and Conditioning Association, dilakukan sebuah penelitian untuk mengetahui tingkat kejadian cedera pada pelaku Crossfit. Hasil pengumpulan data dari penelitian tersebut diketahui bahwa sebanyak 73,5 persen sampel menyatakan mengalami cedera saat melakukan latihan crossfit.

Sementara itu, untuk cedera musculoskeletal yang mendominasi adalah cedera pada bahu dan tulang belakang. Sedangkan untuk  kejadian rhabdomyolisis, tidak ditemukan laporan pada penelitian ini.

Disarankan bagi para penggiat olahraga kebugaran yang mengikuti pola latihan Crossfit untuk lebih memperhatikan kondisi tubuhnya agar terhindar dari cedera.

Pada tahapan awal sebelum memulai latihan, biasanya pelatih akan memberikan materi mengenai cara melakukan gerakan-gerakan dengan benar agar para peserta terhindar dari cedera.

Sebaiknya penjelasan tersebut dipahami dengan baik. Kemudian, saat tubuh sudah merasa sangat kelelahan, ada baiknya untuk tidak memaksakan diri untuk terus melanjutkan latihan.

Foto-foto: http://www.crossfitncr.ca

Sumber : Bisnis.com