Tanda-Tanda Daya Tahan Tubuh Melemah

Daya tahan tubuh yang lemah, maka fisik akan mudah diserang penyakit dan virus. - JIBI/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat
19 Februari 2020 22:27 WIB Dewi Andriani Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Tubuh memiliki sistem imun yang secara alami dapat menjadi pelindung vital bagi tubuh dalam melawan bakteri, virus dan jamur.

Iris Rengganis, Ketua Perhimpunan Alergi dan Imunologi Indonesia mengatakan kekebalan tubuh seseorang bersifat dinamis. Semakin dewasa, antibodi seseorang akan semakin kuat tetapi antibodi juga bisa melemah seiring bertambahnya usia, dan saat masih di bawah 5 tahun, antibody belum terbentuk secara sempurna. Selain dipengaruhi oleh faktor usia, kekebalan tubuh seseorang juga dipengaruhi oleh lingkungan dan kondisi fisik. Kurang tidur dan stres bisa memicu turunnya imunitas tubuh yang otomatis menurunkan kualitas antibodi.

Ketika daya tahan tubuh lemah, maka benda asing akan mudah masuk sehingga menyebabkan seseorang mudah terkena infeksi yang ditandai dengan munculnya beberapa gejala seperti bersin, demam, dan lainnya.

“Imunitas tubuh bisa dijaga dan diperbaiki dengan pola hidup sehat, artinya sehat asupan makanan bernutrisi dan olahraga,” tuturnya.

Selain itu, sistem imun juga dapat ditingkatkan dengan mengatur sistem daya tahan tubuh dengan imunostimulan yang dapat mengaktivasi berbagai elemen dan mekanisme berbeda pada sistem imun.

Menurutnya, imunostimulan berfungsi meningkatkan pertahanan alamiah tubuh untuk mengatasi berbagai infeksi virus dan bakteri, dan juga berbagai penyakit di saat sistem imun mengalami penurunan atau penekanan.

Imunostimulan dapat membantu sistem kerja imun dengan cara merangsang pembentukan berbagai sel-sel imun yang memiliki fungsi penting, salah satunya dengan meningkatkan pembentukan antibodi dan sitokin serta memperbaiki fungsi fagosistosis.

 “Jadi makanan yang bernutrisi itu penting untuk menjaga daya tahan tubuh. Apabila seseorang tidak sempat makan makanan yang bergizi komplit, maka dapat dianjurkan untuk mengkonsumsi suplemen atau imunostimulan,” ujar Prof Iris.

Menurutnya, penggunaan imunostimulan dianjurkan pada orang-orang yang merencanakan bepergian, dan sering berada di pusat keramaian. Selain itu, kelompok usia yang rentan memiliki daya tahan tubuh rendah, terutama lanjut usia (diatas usia 60 tahun).

“Pada kondisi risiko paparan terhadap infeksi virus sangat tinggi, maka imunostimulan dapat ditambahkan di samping pencegahan lainnya. Imunostimulan dapat dikonsumsi dalam durasi tertentu sampai risiko paparan virus menurun dan sebaiknya dikonsumsi sebelum seseorang terinfeksi suatu penyakit, karena imunostimulan membutuhkan waktu untuk merangsang sistem imun,” tuturnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia