Budidaya Kelinci Tidak Semudah Teori

Berbagai jenis kelinci dari Paguyuban Pembudidaya Kelinci Bantul (P2KB), dalam event Bantul Juoss, Sabtu (22/2/2020). - Harian Jogja/Siti Halida Fitriati
23 Februari 2020 16:17 WIB Siti Halida Fitriati (ST 19) Lifestyle Share :

Harianjogja.com, BANTUL -- Memelihara kelinci tak semudah teori. Terkadang teori jauh berbeda dari praktiknya. Hal ini pun dibenarkan oleh Samijo, selaku penghobi kelinci yang tergabung dalam Paguyuban Pembudidaya Kelinci Bantul (P2KB).

Menurut Samijo pada acara Bantul Juoss di Pasar Seni dan Wisata Gabusan Bantul, Sabtu, (22/2/2020), memelihara kelinci nggak mudah, kadang teorinya beda dari praktiknya.

"Seperti kita harus membiasakannya jika berada di tempat baru, nanti dia stres, kemudian sakit. Misal itu sudah ada lalat nya berarti dia sakit," kata Samijo sambil menunjuk kelinci yang tengah dikerubungi lalat.

Berangkat dari hal tersebut, P2KB dalam event Bantul Juoss mulai tanggal 22-23 Februari 2020, mencoba untuk melakukan sosialisasi. Edukasi dilakukan mulai dari tahap pengenalan jenis-jenis kelinci, baik jenis kelinci hias ataupun konsumsi hingga spesies-nya.

"Yang utama itu kita ke arah edukasi, pengenalan bebagai jenis kelinci, terus kelinci itu garis besarnya ada dua. Hias sama pedaging. Untuk konsumsi sebetulnya semuanya bisa dikonsumsi. Tapi kita punya standar sendiri," kata ketua P2KB, Agung Tisnayuana.

Adapun standar yang ditetapkan untuk kelinci layak konsumsi yaitu kelinci dewasa, berumur empat bulan dengan bobot 2,5 kilogram ke atas, dan berjenis kelamin laki-laki.

"Kalau konsumsi, kelinci dewasa di atas 2.5 kilogram. Sebenarnya semua kelinci dapat dikonsumsi tapi kan P2KB ada standarnya untuk kelinci yang bisa disembelih, itu yang jantan dan umur 4 bulanan," ujar Agung.

Kelinci konsumsi dan hias dapat dibedakan dari jenisnya. Kelinci hias biasanya berjenis Anggora, Himalaya, Dutch, English Lop, French Lop, Netherland Dwarf, Holland Lop, Fuzzy Lop, dan kelinci hias lokal.

Sedangkan kelinci pedaging yang layak untuk dikonsumsi, rata-rata ukurannya besar dengan jenis Flemish Giant, Australia New Zealand, Rambon, Rex, dan kelinci lokal Jawa.

"Kelinci medium ke bawah itu hias, nah yang ukurannya besar itu, itu kelinci konsumsi," kata Agung sambil menunjuk kelinci berukuran besar dengan pergerakan yang sagat lincah, yang baru saja dikeluarkan dari kandangnya.