Puskesmas di Indonesia Mampu Deteksi Dini hingga Tangani Covid-19

Juru bicara penanganan covid-19 untuk Indonesia Achmad Yurianto memberikan perkembangan terbaru terkait covid-19 di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (6/3/2020). - Bisnis/Muhammad Khadafi
08 Maret 2020 22:27 WIB Muhammad Khadafi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Seluruh fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) , di Tanah Air dapat menangani kasus Virus Corona atau  Covid-19. Hal itu ditegaskan Sekretaris Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes sekaligus Juru Bicara penanganan Covid-19 untuk Indonesia Achmad Yurianto.

Oleh karena itu dia meminta masyarakat tidak panik bila di sekitar tempat tinggalnya tidak ada rumah sakit besar atau rumah sakit yang menjadi rujukan untuk virus yang tengah mewabah tersebut.

"Puskesmas mampu menangani itu mampu melakukan deteksi dini. Kalau itu nanti dikasih rujukan," kata Yuri di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu (8/3/2020).

Yuri melanjutkan bahwa bila ada pasien yang memiliki gejala mengarah ke Covid-19, puskesmas akan memberikan rujukan kepada rumah sakit. Kemudian rumah sakit yang akan memutuskan tindakan selanjutnya.

Oleh karena itu Yuri menginbau kepada masyarakat untuk tidak khawatir mengenai kesiapan fasilitas kesehatan di Tanah Air guna menangani penyebaran Covid-19. Pun ruang isolasi saat ini yang berjumlah 385 tempat tidur bukan berarti pemerintah hanya mampu menangani 385 pasien.

Yuri menjelaskan, berdasarkan situasi global dan di Indonesia, sebagian besar pasien Covid-19 tidak tergolong dalam kondisi berat. Pasien dalam kondisi sedang dan ringan tidak membutuhkan ruang perawatan dengan ruangan bertekanan negatif dan peralatan kesehatan yang kompleks.

Pasien dalam kondisi ringan dan sedang hanya membutuhkan ruang untuk memisahkan pasien dengan masyarakat. Hal ini bertujuan mengontrol penyebaran Covid-19.

Secara konkret, kata Yuri, beberapa tayangan video perawatan Covid-19 di rumah sakit sementara di China menunjukan bahwa pasien diisolasi di sebuah aula besar. "Dikumpul jadi satu di sana [aula] karena semua positif," ujarnya.

Yuri menjelaskan pasien Covid-19 dengan kondisi kritis lazimnya adalah orang lanjut usia atau memiliki penyakit kronis yang menyertai atau komorbid, seperti jantung dan diabetes. Dengan demikian, alat-alat kesehatan dibutuhkan sebenarnya bukan untuk membantu pasien melawan Covid-19, tetapi untuk penyat kronis yang telah menyertai sebelumnya.

"Jadi penderita Covid-19 tanpa komorbid tidak butuh alat seperti itu," kata Yuri.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah meneliti 620 spesimen terkait pengendalian wabah virus corona atau Covid-19 dari 25 provinsi, Minggu (8/3/2020). Sebanyak 23 dinyatakan sebagai suspect atau terduga dan 4 positif terinfeksi.

Sumber : Bisnis.com