Covid-19 Virus Mematikan Sepanjang Sejarah?

Ilustrasi virus Corona. - REUTERS/Dado Ruvic
14 Maret 2020 11:27 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTADirektur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan virus Corona baru atau SARS-CoV-2 sebagai pandemik pada Rabu (11/3/2020). Tapi, jauh sebelum ini, tepatnya pada 1918 juga pernah terjadi pandemi influenza secara global yang dikenal sebagai flu Spanyol.

Spanyol disebut sebagai negara paling awal yang mendeteksi virus ini, tetapi sejarawan percaya ini kemungkinan hasil dari sensor masa perang.

Spanyol adalah negara netral selama perang dan tidak memberlakukan sensor ketat terhadap media, yang karenanya dapat dengan bebas menerbitkan laporan awal penyakit tersebut.

Akibatnya, orang-orang salah percaya bahwa penyakit itu khusus untuk Spanyol, dan nama "flu Spanyol" menjadi paten.

Flu ini menyebar dengan cepat dan membunuh tanpa pandang bulu. Orang muda, tua, sakit, dan sehat semuanya dapat terinfeksi dan setidaknya 10% pasien meninggal.

Pandemi ini disebut-sebut sebagai pandemi paling mematikan sepanjang sejarah.

Perkiraan jumlah pasti kematian bervariasi, tetapi diperkirakan saat itu menginfeksi sepertiga populasi dunia dan menewaskan sedikitnya 50 juta orang.

Dilansir Live Science, wabah ini dimulai selama bulan-bulan terakhir Perang Dunia I, dan sejarawan percaya konflik ini mungkin sebagian bertanggung jawab untuk menyebarkan virus.

Di Front Barat, ketika tentara yang hidup dalam kondisi kotor, lembap dan sempit menjadi sakit. Ini adalah akibat langsung dari melemahnya sistem kekebalan tubuh dari kekurangan gizi.

Penyakit mereka, yang dikenal sebagai "la grippe," menular, dan menyebar di antara tentara. Meski kondisi pasien saat itu membaik, tidak semua akan sembuh.

Selama musim panas 1918, ketika tentara pulang, mereka membawa virus yang tidak terdeteksi dan menyebabkan sakit. Virus menyebar ke seluruh wilayah di negara asal tentara.

Banyak dari mereka yang terinfeksi, baik tentara maupun warga sipil, tidak pulih dengan cepat. Virus ini paling sulit menyerang dewasa muda antara usia 20 dan 30 yang sebelumnya sehat.

Sumber : Suara.com