Begini Rekomendasi dari Dokter Paru untuk Penanganan Virus Corona

Tenaga medis bekerja di tenda dan bangunan darurat yang dibuat untuk membantu sistem perawatan kesehatan di kawasan rumah sakit di Brescia, Italia, Jumat (13/3/2020). Penyebaran wabah virus corona (Covid-19) di Italia cukup signifikan dengan pertumbuhan jumlah kematian pasien yang mencapai 14 persen. Bloomberg - Francesca Volpi
18 Maret 2020 02:17 WIB Desyinta Nuraini Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Virus Corona atau Covid-19 semakin mewabah sehingga upaya penanganan menjadi penting untuk diketahui oleh semua orang. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia memberikan rekomendasi pengobatan diri sendiri yang mengalami gejala ringan batuk dan pilek, di tengah menyebarnya virus corona.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Agus Dwi Susanto menyarankan agar masyarakat yang memiliki gejala batuk, flu, dan sakit tenggorokan lebih baik melakukan pemeriksaan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

"Dengan kondisi sekarang yang sudah banyak kasusnya, tentunya harus lebih aware, kasus batuk, pilek, sakit tenggorokan dicurigai ke arah Covid-19, segera ke dokter saja," ujarnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (17/3/2020).

Jika dari fasilitas pertama menyimpulkan bahwa gejala-gejala tersebut diindikasikan terinfeksi virus corona, kata Agus, bisa melakukan pemeriksaan lanjutan ke rumah sakit terdekat.

"Dilakukan tes untuk dipastikan dengan pemeriksaan swab tenggorokan atau pemeriksaan dahak untuk mengetahui virus ada tidak di badannya," tutur Agus. Jika positif, ada sejumlah penanganan yang akan dilakukan petugas medis.

Agus menerangkan saat ini Perhimpunan Dokter Paru Indonesia tengah menyusun pedoman dalam menangani pasien yang terinfeksi Covid-19. Namun pada prinsipnya, dalam penanganan pasien tersebut tergantung pada derajat gejala yang dialami.

Apabila pasien masuk dalam kategori gejala ringan tertular Covid-19 seperti batuk, pilek, dan sakit tenggorokan, bisa melakukan isolasi mandiri di dalam rumah.

Biasanya, dokter akan memberikan obat untuk mengatasi batuk dan pilek yang diderita, dengan menambah vitamin serta meminta agar pasien mencukupi kebutuhan cairan di tubuhnya dan memakan makanan bergizi.

"Kalau kondisi ringan tanpa pneumonia itu bisa di rumah. Bisa self isolation di rumah dengan obat-obatan dan petunjuk dokter terkait apa saja yang harus dilakukan di rumah," jelasnya.

Bila pasien didiagnosis mengalami gejala Covid-19 dengan pneumonia ringan, biasanya mereka akan dirawat di RS. "Begitu pula kalau pneumonia berat, itu di ruang isolasi. Bahkan pneumonia dengan komplikasi bisa di ICU isolasi," tutur Agus.

Bagi pasien yang dirawat di rumah sakit, obat yang diberikan tidak jauh beda dengan mereka yang memiliki gejala ringan. Bedanya, di RS obat-obatan seperti antibiotik dan oseltamivir (obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi virus influenza tipe A misalnya flu burung, atau B) diberikan secara infus.

Akan tetapi jika pasien yang mengalami pneumonia berat dan mengarah ke gagal nafas, petugas medis akan memasang ventilator atau alat bantu nafas.

Sementara itu Agus menyarankan agar masyarakat tetap menjaga pola hidup sehat dengan mengkonsumsi suplemen makanan atau vitamin guna menjaga daya tahan tubuh.

Berdasarkan data yag dikeluarkan pemerintah per Selasa (17/3/2020), terdapat tambahan 38 pasien baru yang terpapar virus Corona. Kini total pasien positif terinfeksi virus Corona adalah 172 orang, setelah pada Senin (16/3/2020) "baru" berjumlah 134.

"Penambahan terbanyak adalah dari Provinsi DKI Jakarta, kemudian Jawa Timur, dari Jawa Tengah dan juga dari Provinsi Kepulauan Riau," ucap Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, Achmad Yurianto, Selasa (17/3/2020).

Menurut pria yang biasa disapa Yuri tersebut, ada alasan mengapa penambahan pasien terbanyak terjadi di Jakarta. Sebab, menurut Yuri, Ibu Kota memiliki gerbang yang banyak. Dan juga, Jakarta merupakan pusat dari putaran ekonomi serta pemerintahan Indonesia. Oleh karena itu, mobilitas warga di dalamnya bergerak sangat cepat

Sumber : Bisnis.com