Pasien Harus Sabar Menanti Vaksin Virus Corona. Ini Alasannya ...

Seorang peneliti bekerja di laboratorium pusat pencegahan dan pengendalian penyakit di Nanyang, Provinsi Henan, China tengah, pada 4 Februari 2020. - Antara/Xinhua
27 Maret 2020 03:57 WIB Gloria Fransisca Katharina Lawi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Vaksin virus Corona penyebab Covid-19 sulit ditemukan.

Dikutip dari Bloomberg melansir Bisnis.com, Kamis (26/3/2020), virus SARS nCOV, adalah salah satu virus terbaru yang ditemukan pertama kali di China dan merambah dengan sangat cepat ke seluruh dunia. Sampai sekarang belum ada vaksin yang bisa dijustifikasi sebagai vaksin dari Covid-19.

1. Mencari metode pengobatan virus Corona (Covid-19)

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan dua obat untuk malaria yaitu chloroquine dan hydroxychloroquine bisa melawan virus. Pendapat Trump berbasis sejumlah studi terbaru yang menunjukkan banyak dokter menghadapi penyakit baru namun belum menemukan pengobatan yang tepat.

Studi ini telah didesain untuk menunjukkan efektivitas obat dalam melawan virus Corona meskipun percobaan dalam laboratorium, hewan, ataupun percobaan untuk manusia terbilang aman dan efektif.

Usai Trump mengumumkan chloroquine sebagai senjata melawan Covid-19, seorang pria Amerika dan istri dalam perawatan di rumah sakit setelah melakukan pengobatan mandiri dengan obat tersebut. Seorang warga negara asal Nigeria juga mencatat ada dua kasus keracunan karena obat ini.

2. Bagaimana para ilmuwan bisa membuktikan pengobatan ini efektif?

Pada dasarnya, pasien yang memanfaatkan obat akan sembuh dibandingkan dengan orang yang tidak memanfaatkan obat. Oleh sebab itu uji coba obat ini berupaya memasukkan sejumlah pengaruh dan faktor yang mungkin mendorong efektivitas pengobatan.

Meski demikian, tak bisa ditampik bahwa pasien juga umumnya bisa pulih dari sakit karena istirahat yang cukup dan tercukupinya kebutuhan air. Beberapa pasien yang sangat sakit juga mungkin tidak merespon pengobatan dengan optimal. Oleh sebab itu, FDA dan U.S. Federal Trade Commission sudah mengingatkan perusahaan berhenti menjual obat-obatan yang tidak terbukti bagi pengobatan Corona.

3. Berapa lama waktu membuktikan kemanjuran obat?

Hal ini sangat tergantung dengan banyak hal. Pengobatan bisa membuktikan keberhasilan melawan infeksi dan aman digunakan dalam kurun waktu yang lama. Obat yang masih dalam pengembangan memang membutuhkan waktu ekstra untuk dikaji ulang.

Faktor lainnya, uji coba juga bisa diakui oleh para ilmuwan, dan regulator. Berkaca dari 2017, tenggat waktu pemerintah mengakui pengobatan terbaru yang muncul 2015 membutuhkan waktu 333 hari di Amerika. Di Eropa membutuhkan 422 hari, dan di China membutuhkan 639 hari.

4. Apa yang sedang diuji untuk melawan Covid-19?

Lebih dari 100 klinik uji coba meluncurkan studi di China tentang anti virus untuk flu dan antibodi yang termasuk plasma dari pasien yang telah sembuh berasal dari pengobatan herbal China. Para ilmuwan WHO telah mengidentifikasi kajian remdesivir antivirus eksperimental yang dibuat oleh Gilead Sciences Inc. yang awalnya sebagai pengobatan untuk Ebola.

Dalam penelitian pada hewan terbukti berhasil terhadap virus corona khususnya sindrom pernapasan akut (SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS). Hasil uji coba Remdesivir diharapkan dari Cina pada akhir April. Uji coba klorokuin yang lebih besar sudah dimulai.

Sementara itu, dalam sebuah penelitian di Cina yang diterbitkan 18 Maret, Kaletra dari AbbVie Inc., sebuah pengobatan HIV yang menggabungkan dua obat, gagal untuk memperbaiki kondisi pasien coronavirus. Percobaan pendahuluan kecil lain dari obat flu favipiravir, atau Avigan, yang dibuat oleh Fujifilm Holdings Corp. menghasilkan hasil yang lebih menjanjikan.

5. Bagaimana dengan pengembangan vaksin?

Para peneliti sudah melakukan uji coba kepada manusia untuk vaksin Covid-19 pada pertengahan Maret 2020 di Seattle. Vaksin ini dikembangkan oleh U.S. National Institute of Allergy and Infectious Diseases berkolaborasi dengan perusahaan bioteknologi Moderna Inc. sejumlah perusahaan besar di dunia juga sedang mengerjakan proyek pembuatan vaksin.

GlaxoSmithKline bekerjasama dengan perusahaan berbasis di Cina, Clover Biopharmaceuticals, sementara Sanofi bersama Johnson & Johnson ikut mengembangkan tanpa bekerjasama dengan pemerintah AS. Anthony Fauci, Director U.S. National Institute of Allergy and Infectious Diseases mengatakan butuh waktu sekitar setahun atau setengah tahun untuk menyelesaikan vaksin ini, menaikkan produknya, dan memasarkannya secara luas.

Perlu dicatat tidak ada garansi bahwa uji coba vaksin ini akan mencatatkan kesuksesan. Percobaan dari Moderna yaitu vaksin RNA saja tidak banyak diproduksi dan digunakan oleh manusia. Penyakit SARS yang menewaskan sekitar 800 orang pada 2002-2003 saja masih belum menemukan vaksin yang tepat.

 

 

Sumber : Bisnis.com, Bloomberg