Untuk Warga yang Terpaksa Mudik, Ini Saran dari Dokter Paru

Penumpang kereta api Tawang Jaya Lebaran tiba di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Sabtu (8/6/2019). Pada H3 Lebaran 2019, arus balik pemudik yang tiba di Stasiun Pasar Senen mulai mengalami peningkatan. - ANTARA FOTO/Reno Esnir
18 April 2020 02:47 WIB Desyinta Nuraini Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pemerintah telah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Ibu Kota. Gelombang mudik masih terjadi walaupun ada imbauan pemerintah agar masyarakat tidak melakukannya di tengah pandemi virus corona.

Fakta di lapangan, banyak yang beralasan mudik karena tidak lagi memiliki kerjaan di Jakarta akibat diberhentikan oleh perusahaan hingga dagangan yang tak lagi ramai. Ada juga yang merasa bosan dengan aktivitas saat PSBB di Ibu Kota.

Ketua Tim Penanganan Covid-19, dr. Erlina Burhan mengatakan jika ada orang terpaksa mudik, atau sudah terlanjur mudik, disarankan masyarakat tetap menjaga jarak aman saat di kendaraan. Bagi pemudik, bila sampai di kampung halaman, maka segeralah mengkarantina diri di rumah.

"Bukan bersilaturahmi kesana kemari. Karena Anda bisa jadi saja tidak memiliki gejala tetapi bisa saja OTG (orang tanpa gejala), mempunyai virus di saluran nafasnya," ujarnya dalam diskusi dalam aplikasi pesan singkat, Jumat (17/4/2020).

Dokter paru ini mengungkapkan bahwa OTG yang melakukan silaturahmi dengan tidak langsung mengkarantina diri sangat berbahaya bagi orang lain. Apalagi jika bertemu dengan lansia yang sistem imunnya rendah.

"Ini bisa menularkan, jadi kalaupun terpaksa pulang kampung jagalah jarak, isolasi diri dan istirahat, jangan begadang," tegasnya.

Namun Erlina mengharapkan masyarakat, khususnya warga Jakarta untuk mematuhi imbauan pemerintah dengan tidak pulang kampung. "Masyarakat adalah garda terdepan untuk memutus rantai penularan, maka hindarilah kerumunan, mudik ini kan berkerumun," tukasnya.

Update Virus Corona (Covid-19) di Indonesia

Pemerintah mencatat adanya penambahan kasus baru pasien positif virus Corona (Covid-19) di Indonesia, yakni sebanyak 407 orang, sehingga total pasien terkonfirmasi Covid-19 menjadi 5.923 kasus. 

Juru Bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan data tersebut diperoleh hingga siang ini, Jumat (17/4/2020).  

Menurutnya, data terbaru itu dihimpun dari seluruh rumah sakit yang merawat pasien Covid-19 di seluruh Indonesia. Penambahan kasus positif Covid-19 itu diperoleh dari hasil pemeriksaaan polymerase chain reaction (PCR).  

"Maka, total pasien yang positif kini yang telah terkonfirmasi menjadi 5.923 kasus," jelas Yuri, sapaan Yurianto, dalam konferensi pers, Jumat(17/4/2020).

Selain itu, ada penambahan kasus meninggal sebanyak 24 kasus. Dengan demikian, hingga saat ini sudah ada 520 orang yang meninggal akibat virus Corona di Indonesia. 

Sumber : Bisnis.com