Mendengarkan Musik Selama 30 Menit Dapat Kurangi Masalah Jantung

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
22 April 2020 13:37 WIB Siti Halida Fitriati (ST 19) Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA -- Sebuah penelitian baru membuktikan bahwa mendengarkan musik selama 30 menit sehari secara signifikan dapat mengurangi risiko masalah jantung, terutama bagi orang yang pernah mengalami serangan jantung.

Penelitian ini akan dipresentasikan dalam event College of Cardiology yaitu Sesi Tahunan Ilmiah dan Expo ke-69 di Amerika Serikat. Acara ini akan dijadwalkan pada 28 Maret 2020.

Menurut penulis utama studi ini, Predrag Mitrovic, dari Fakultas Kedokteran Universitas Belgrade, mengatakan masih sedikit penelitian yang menganalisis efek musik terhadap kondisi jantung.

“Berdasarkan temuan kami, kami percaya terapi musik dapat membantu semua pasien setelah mengalami serangan jantung," katanya.

Di Amerika Serikat, setiap 40 detik seseorang dengan mudah mengalami serangan jantung. Jika diakumulasikan selama setahun berjumlah sekitar 805.000 orang, berdasarkan laporan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Sedangkan di Indonesia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit jantung koroner (ischaemic heart disease) merupakan penyebab kematian terbesar di Indonesia. Pada 2016, tingkat kematian akibat penyakit jantung sebesar 122 orang per 100 ribu populasi. Angka ini lebih tinggi dibandingkan penyakit lainnya, seperti stroke, TBC, dan diabetes.

CDC juga menunjukkan bahwa seseorang yang telah mengalami serangan jantung, memiliki risiko lebih tinggi mengidap serangan jantung di masa depan, atau dalam istilah ilmiah disebut kardiovaskular.

Perawatan untuk serangan jantung tergantung pada jenis serangan dan faktor-faktor spesifik untuk setiap orang. Menurut American Heart Association (AHA), bisa melibatkan berbagai prosedur dan resep obat tertentu.

Namun, penelitian yang dilakukan oleh Predrag Mitrovic dan timnya, penyakit jantung bisa disembuhkan dengan hanya mendengarkan musik selama 30 menit perhari.

"Ini sangat mudah dan murah untuk diterapkan," ujar Predrag.

Studi baru ini melibatkan 350 orang yang pernah mengalami serangan jantung dan mengalami nyeri dada setelah serangan jantung.

Setengah dari orang-orang ini hanya menerima perawatan biasa, sementara setengah lainnya diberikan terapi musik selama 30 menit per hari.

Terapi musik disesuaikan untuk setiap individu. Pertama, para peneliti memainkan klip berdurasi 30 detik dari berbagai jenis musik untuk setiap orang. Kemudian menentukan jenis musik yang mampu memberikan ketenangan dengan mengukur setiap pelebaran pupil dari individu tersebut.

Setelah memutuskan jenis musik mana yang paling santai. Selanjutnya, peneliti dan setiap peserta memilih tempo dan nada suara yang paling menenangkan.

Hingga kemudian, peneliti meminta orang-orang dalam kelompok terapi musik yang sudah dipilih dari 350 orang tadi untuk mendengarkan musik selama 30 menit sehari, kapan saja dengan kondisi yang nyaman, lebih enak dengan mata tertutup dalam lingkungan yang tenang.

Penelitian ini berlanjut selama tujuh tahun. Masing-masing peserta dinilai setiap tahun. Di tahun pertama setiap tiga bulan sekali. Di tahun-tahun selanjutnya untuk enam tahun yang tersisa, hanya dilakukan penilaian setahun sekali saja.

Setelah tujuh tahun, para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang mendapatkan terapi musik dan perawatan tradisional secara signifikan lebih kecil kemungkinannya mengalami kecemasan dan sensasi rasa sakit, daripada mereka yang hanya menerima perawatan tradisional.

Selain itu, para peneliti menemukan bahwa orang yang menerima terapi musik secara signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami berbagai kondisi jantung. Kelompok ini memiliki 18% lebih sedikit gagal jantung, 23% lebih sedikit serangan jantung, 20% lebih sedikit membutuhkan operasi cangkok bypass arteri koroner, dan 16% lebih rendah alami kematian akibat serangan jantung.

Predrag Mitrovic berspekulasi bahwa terapi musik dapat mencapai efek yang maksimal dengan mengurangi penerbangan. Sebab, aktivitas tersebut dapat memberikan tekanan tambahan pada jantung.

"Kegelisahan yang tak tertahankan dapat menghasilkan peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik, yang mengarah pada peningkatan beban kerja jantung," ujarnya.

Ke depannya, Predrag Mitrovic ingin melihat hasilnya secara lebih rinci, untuk mengeksplorasi efek spesifik terapi pada peserta dari berbagai usia dan mereka yang memiliki masalah kesehatan tambahan.

Sumber : Medicalnewstoday