Fokus Covid-19, Nasib Pasien Kanker Seakan 'Dinomorduakan'

Ilustrasi penyintas kanker - Reuters - Jim Bourg
24 April 2020 02:57 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, AS - Mewabahnya virus Corona penyebab Covid-19 telah mengguncang aspek perawatan kesehatan, termasuk kanker, transplantasi organ, dan bahkan operasi otak.

Awalnya, ketika wabah ini terjadi, banyak rumah sakit mengambil langkah untuk menghentikan operasi elektif atau non-emergency. Tetapi, seiring waktu beberapa kondisi jatuh ke zona abu-abu risiko medis. Walau mungkin bukan kondisi darurat, banyak dari penyakit non-emergensi menjadi ancaman jiwa, atau jika tidak segera diobati, dapat membuat pasien hidup dengan cacat permanen.

Keterlambatan pengobatan sangat menganggu bagi penderita kanker. Para dokter mengatakan bahwa mereka hanya berusaha menyediakan perawatan kanker yang paling mendesak, tidak hanya untuk menghemat sumber daya tetapi juga melindungi pasien kanker, yang memiliki peluang tinggi untuk sakit parah saat terinfeksi Covid-19.

Survei terbaru oleh Jaringan Aksi Kanker American Cancer Society, dilansir New York Times melansir Suara.com, menunjukkan hampir satu dari empat pasien kanker mengalami keterlambatan dalam perawatan, termasuk akses janji temu dokter, pencitraan atau scan, operasi dan layanan lainnya.

Pemimpin perusahaan yang bergerak di bidang jasa membantu pasien kanker menemukan uji klinis TrialJectory, Tzvia Bader, mengatakan pasien yang ketakutan telah menelepon mereka untuk meminta nasihat tentang penundaan perawatan penyakit mereka.

Salah satu kasusnya, seorang wanita yang telah menjalani operasi melanoma dan akan memulai imunoterapi, diberi kabar bahwa perawatannya akan ditunda untuk jangka waktu tidak diketahui.

"Dia berkata, 'apa yang akan terjadi padaku?'. Ini tidak meningkatkan peluangnya [untuk bertahan]," kata Bader.

"Kematian kanker telah menurun selama beberapa tahun terakhir, dan saya sangat takut kita akan mundur," sambungnya.

Banyak rumah sakit telah menunda operasi untuk tumor payudara, keputusan yang meresahkan bagi wanita yang ingin menghilangkan kanker.

Tetapi ahli kanker mengatakan bahwa untuk sebagian besar kasus kanker payudara, tidak seperti keganasan yang lebih agresif, tidak ada salahnya menunggu operasi karena regimen dapat diubah.

"Kita dapat memberikan obat dengan aman terlebih dahulu dan memulai operasi nanti, Krisis saat ini akan terkendali dan mereka bisa kembali lagi nanti," kata Dr. Larry Norton, direktur medis dari Evelyn H. Lauder Breast Center di Memorial Sloan Kettering Cancer Center, New York.

Tetapi pasien perlu keyakinan bahwa tidak apa-apa untuk mengubah rencana.

"Pasien yang membutuhkan radiasi mendesak [seperti untuk otak atau tulang belakang metastasis dari kanker payudara] akan dapat menjalani radioterapi. Ahli onkologi radiasi juga mencoba menggunakan regimen yang lebih pendek bila mungkin untuk meminimalkan jumlah proses yang harus dilakukan pasien untuk radiasi," tutur Dr. Sylvia Adams, direktur pusat kanker payudara di NYU Langone's Perlmutter Cancer Center.

Sayangnya, perubahan sistem ini juga memengaruhi pasien yang membutuhkan transplantasi organ, hingga operasi otak.

Sumber : Suara.com, New York Times