Social Distancing Bikin Rasa Tak Nyaman? Begini Penjelasannya

Penumpang menunggu kereta di salah satu stasiun MRT di Jakarta, Kamis (19/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
09 Mei 2020 09:07 WIB Dewi Andriani Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Manusia adalah makhluk sosial yang selalu ingin berhubungan dengan manusia lainnya.

Apalagi Indonesia yang masyarakatnya dikenal sangat guyub dan bisa mendapatkan kebahagiaan ketika berkumpul bersama dengan orang lain atau kelompoknya.

Namun, hadirnya pandemi Covid-19 ini telah mengubah kehidupan sosial masyarakat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Kita dipaksa untuk mengisolasi diri di rumah dan melakukan social distancing atau physical distancing, ruang sosial semua dikunci sehingga tidak bebas berkerumun dan berhubungan dengan orang lain dalam satu tempat yang sama.

Jangankan untuk bertemu dengan orang lain, bahkan untuk mudik dan pulang kampung bertemu dengan keluarga dan orang tua, sudah tidak boleh, demi menekan penyebaran virus Covid-19 agar tidak menulari keluarga di kampung.

“Ketika harus tetap di rumah, tidak boleh bertemu dengan orang lain dan menjaga jarak sosial maka itu dapat menimbulkan kecemasan dan rasa nggak nyaman sebab ada kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial yang tidak terpenuhi yaitu kebersamaan,” ujar Mellia Christia, Psikolog dan staf pengajar bidang studi Psikologi Klinik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Maka dari itu, penting untuk tetap menjaga konektivitas dengan orang lain walaupun hanya dilakukan secara online yang terpenting tetap terkoneksi sehingga tidak merasa sendiri dan kesepian.

“Dianjurkan untuk minimal seminggu sekali telepon atau video call dengan teman, colega, rekan kerja, orang tua, atau siapapun agar kebutuhan relatedness itu bisa dipenuhi karena kalau tidak [terpenuhi] akan memengaruhi psikologis seseorang,” tuturnya.

Sumber : bisnis.com