Selama Pandemi, Orang Tua Jangan Tunjukkan Sikap Cemas di Depan Anak

Foto ilustrasi anak di masa pandemi Covid-19. - Ist/Freepik
21 Mei 2020 03:57 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Wabah virus Corona penyebab Covid-19 secara tidak langsung memengaruhi mental anak usia dini (AUD). Situasi yang tidak biasa, tidak boleh keluar rumah, kegiatan belajar dan bekerja dari rumah, bisa membuat anak bingung.

Nindya Rengganis mengatakan, maka wajar jika anak-anak pada akhirnya berperilaku tidak wajar, seperti lebih rewel dari biasanya.

"Hampir dua bulan lebih anak menghadapi pandemi dengan situasi tidak wajar, mainnya di rumah ajan rutinitas berubah, gak bisa main sama teman, gak bisa ketemu guru, tidak ada kepastian kapan wabah akan berakhir. Jadi wajar jika anak menunjukan respon dan reaksi tidak wajar," kata Nindya dalam diakusi online Koalisi PAUD HI Nasional, belum lama ini. dikutip dari Suara.com--jaringan Harianjogja.com. 

Saat masa seperti ini peran orangtua menjadi lebih penting lagi. Karena, kata Nindya, selain memastikan anak tetap merasa aman dan nyaman di rumah, orangtua juga disarankan tidak menunjukan sikap cemas dan khawatir di depan anak.

"Karena akan ditiru anak dalam berpikir dan berperilaku," ucapnya.

Oleh sebab itu, perlu diperhatikan agar orangtua atau pun guru pendidikan anak usia dini (PAUD) tetap mengoptimalkan kebutuhan psikososial anak.

Nindya menjelaskan bahwa kebutuhan psikososial AUD dikategorikan menjadikan tiga jenis berdasarkan jenjang usia.

Pada usia awal 0-2 tahun merupakan fase AUD untuk menumbuhkan rasa percaya. Sehingga orangtua harus memberikan rasa aman dan nyaman kepada anak.

Sedangkan usia 2-4 tahun atau fase otonomi, kata Nindya, menjadi momen anak untuk mengekplorasi dunianya.

Peran orangtua untuk mengajarkan berbagai hal kepada anak melalui benda sehari-hari disekitarnya.

Fase UAD terakhir, yaitu saat anak berusia 4 hingga 6 tahun. Waktu di mana anak mengambil inisiatif mempelajari berbagai hal.

Saat usia itu, mungkin anak sudah sekolah. Sehingga peran bukan hanya dari orangtuanya, tapi juga guru untuk membangun kreatifitasndan daya pikir anak.

Sumber : Suara.com