Akibat Covid-19, Puluhan Juta Perempuan Kesulitan Peroleh Alat Kontrasepsi

Ilustrasi alat kontrasepsi suntik. - Reuters
21 Mei 2020 06:07 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 bisa mengakibatkan puluhan juta perempuan kesulitan mendapat akses kontrasepsi. DImungkinkan angka kehamilan yang tidak diinginkan bisa meningkat, menurut Dana Populasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA), dilansir dari Suara.com--jaringan Harianjogja.com. 

"Sebanyak 47 juta perempuan di 114 negara berpendapatan kecil dan menengah mungkin tidak bisa mengakses kontrasepsi modern," kata UNFPA dalam laporannya. "Tujuh juta kehamilan yang tidak diinginkan berpotensi terjadi jika lockdown berlangsung selama enam bulan dan layanan kesehatan akan sangat terganggu. Angka tersebut akan naik dengan tambahan sampai dua juta perempuan setiap tiga bulan jika lockdown diperpanjang."

Ini terutama mengkhawatirkan di negara seperti Filipina, di mana aborsi ilegal dan perempuan sangat bergantung pada pusat layanan kesehatan dan program-program di komunitas untuk mendapatkan kontrasepsi.

"Diprediksi ada 1,2 juta perempuan yang akan hamil di luar rencana karena Covid-19," kata Dr. Joseph Michael Singh, perwakilan UNFPA di Filipina.

Menurutnya, ini adalah skenario terburuk, di mana layanan kontrasepsi vital turun 50% karena pandemi tahun ini.

Kehamilan di luar rencana, ditambah dengan kurangnya akses ke perawat, bidan, dan perawatan darurat, dapat memicu kenaikan angka kematian ketika melahirkan, kata UNFPA.

Stok kontrasepsi berkurang

"Kami mulai kekurangan stok kondom, implan hormonal, dan pil-pil progesterone," kata Amina Evangelista Swanepoel, kepala lembaga non-pemerintah Roots of Health.

Kelompok itu menyediakan layanan kesehatan reproduksi gratis bagi warga di Puerto Princesa dan area-area terpencil lainnya di provinsi Palawan di Filipina. Kini mereka kekurangan pasukan karena jasa pengiriman dan penerbangan yang terbatas karena pandemi Covid-19.

Program keluarga nasional pemerintah mengatakan kepada BBC bahwa mereka memiliki pasokan kontrasepsi yang memadai, namun terbukti sulit untuk membagikannya ke semua provinsi.

"Ada seorang perempuan yang berjalan sekitar 10 kilometer untuk menemui kami dan ia harus melewati titik-titik pemeriksaan dan menjelaskan alasan ia harus menemui kami setiap kali," kata Analiza Herrera yang bekerja di Kantor Kesehatan Kota Puerto Princesa di provinsi Palawan.

Di beberapa wilayah di Filipina, termasuk di Palawan, setiap rumah hanya diizinkan satu kali bepergian di tengah lockdown.

"Ijin itu tidak menyebutkan bahwa hanya laki-laki yang dibolehkan, tapi seringkali yang bisa bepergian adalah laki-laki," kata Swanepoel. "Sulit bagi perempuan untuk keluar dan mendapatkan kontrasepsi, terutama bagi perempuan yang pasangannya tidak tahu mereka menggunakannya."

Meski di beberapa wilayah di Palawan lockdown telah dilonggarkan dan transportasi umum kini beroperasi kembali, kapasitas transportasi dikurangi untuk mendorong social distancing.

"Kami masih mendapat pesan dari perempuan yang membutuhkan kontrasepsi tapi mereka takut keluar," kata Swanepoel.

Ia mengatakan, situasinya makin sulit jika mereka dikarantina bersama pasangannya.

"Situasi akan lebih sulit bagi perempuan di Filipina untuk mengajak tidak berhubungan intim ketika mereka subur, terutama mereka yang bergantung pada kontrasepsi alami."

Garda terdepan

Roots of Health turun dari pintu ke pintu membagikan kontrasepsi gratis ke mereka yang paling rentan.

"Awalnya saya takut saya akan terkena virus corona saat turun ke lapangan, apalagi saya punya bayi berumur enam bulan," kata seorang perawat, Shery Villagaracia. "Ini sangat sulit, tapi sebagian besar perempuan yang kami temui tidak bisa membeli pil pengendali kehamilan."

Pandemi virus corona adalah tantangan terbaru bagi perempuan Filipina dalam mendapat layanan kesehatan reproduksi.

"Salah satu klien saya meminta saya menyuntik kontrasepsi di lokasi yang jauh dari rumahnya karena suaminya tidak tahu ia menggunakannya. Ia buru-buru dan saya melihat tanda-tanda kekerasan rumah tangga," kata Shery.

Provinsi Palawan mencatatkan tingkat kehamilan remaja tertinggi di Filipina. Sebelum pandemi, perempuan di Filipina sudah susah mendapatkan kontrasepsi.

"Saya punya seorang klien yang adalah ibu remaja, dan ia mengatakan ia mencegah kehamilan berikutnya dengan memberi air susu ibu untuk bayinya, ini sangat tidak bisa diandalkan," kata Shery.

Menurut survei nasional tahun 2017, 49% perempuan lajang yang sudah aktif seksual tidak menggunakan kontrasepsi apapun. Sebanyak 17% perempuan yang sudah menikah namun tidak mau hamil juga tidak memakai kontrasepsi.

"Alasan utama perempuan Filipina tidak memakai kontrasepsi adalah mereka takut akan efek sampingnya dan kelompok anti kesehatan reproduksi memberikan informasi yang tidak berdasarkan bukti," kata Dr. Joseph Michael Singh dari UNFPA.

"Di Filipina, mayoritas masyarakatnya Katolik, dipimpin oleh pimpinan gereja yang sangat konservatif, sementara di bagian selatan, ada pimpinan agama Islam yang sangat berpengaruh," tambahnya.

Kehamilan di luar rencana dapat berdampak signifikan pada aspek ekonomi, sosial, dan psikologi perempuan.

"Kehamialn di luar rencana berpotensi mempengaruhi status finansial perempuan, terutama selama pandemi Covid-19," kata Shery. "Ini menyedihkan. Perempuan harus mendapat akses ke kontrasepsi."

Sumber : Suara.com, BBC