Pandemi Covid-19 Pengaruhi Perilaku Anak

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
13 Juni 2020 10:27 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Perilaku dan kesehatan mental anak sedikit banyak dipengaruhi oleh pandemi Covid-19.

Ada yang lebih manja dan menempel pada orangtuanya, dan yang lain mengalami kemunduran dalam berbagai perilaku, mulai dari mengompol hingga kesulitan tidur. Dan tak sedikit pula anak yang menjadi suka marah-marah.

Hal ini diakui Becky Kennedy, seorang psikolog klinis di New York. “Mereka marah karena dunia mereka telah terbalik; mereka marah karena mereka tidak bisa bertemu teman-teman mereka dan pergi ke sekolah; mereka marah karena orangtua mereka ada di depan mata namun tidak menghabiskan banyak waktu untuk mereka. Ini memang bukan kesalahan orangtua, tapi anak-anak memiliki hak untuk marah tentang semua hal ini," katanya.

Jadi, apa yang harus orangtua lakukan untuk menghadapi anak yang tiba-tiba menjadi pemarah? Dilansir dari Huffpost, simak beberapa saran dari pakar berikut ini.

Pertama-tama, pahami anak!

Para ahli semua menegaskan bahwa penting untuk berhubungan dengan emosi Anda dan anak Anda. Alih-alih mengelompokkan perilaku berdasarkan apa yang "normal" dan "abnormal," fokuslah pada hubungan dengan anak Anda dan apa yang terjadi pada saat itu, demikian dikatakan Kennedy yang memegang gelar doktor dalam psikologi klinis.

Di balik penyebab amarah biasanya ada banyak emosi, khususnya khawatir, sakit hati, takut, sedih, kehilangan, dan kebingungan. “Yang penting untuk membantu orang yang sedang marah adalah dengan memisahkan perilaku marah dari perasaan yang mendasarinya,” kata Kennedy.

Apa yang harus dikatakan dan dilakukan?

Berita baiknya adalah Anda dapat membantu anak-anak melepaskan amarah mereka dan memahaminya. Meski begitu, keterampilan pengaturan emosi yang lebih baik dibangun saat mereka tidak sedang stres, jadi cobalah lakukan setelah anak 'meledak'.

Jika Anda masih mengkarantina diri dengan berada di rumah saja, Kennedy menyarankan untuk membuat daftar mengenai “Hal-Hal yang Berubah”, misalnya tidak bisa bertemu teman, tidak bisa ke sekolah, dll. Buat juga daftar “Hal-Hal yang Tetap Sama”, contohnya sarapan selalu disajikan pada jam 7 pagi.

Tunjukkan pada anak daftar tersebut, dan jelaskan emosi yang mereka rasakan. Katakan, “Ya, masuk akal jika kamu sedih. Kamu menyukai teman-temanmu dan kini tidak bisa bertemu mereka.” Atau Anda juga bisa mengatakan, “Mama tahu kamu ingin bermain bersama Mama, tetapi meski Mama di rumah, Mama juga harus bekerja. Itu pasti membuat kamu kesal, tapi Mama harap kamu mengerti."

Lalu, bagaimana cara menghadapi anak yang sedang marah? Salah satu komponen kunci adalah meresponnya dengan baik. "Cobalah untuk menatap anak, seolah dia adalah anak yang baik yang mengalami kesulitan, bukan anak yang buruk melakukan hal-hal buruk," kata Kennedy.

Kemudian, luangkan waktu untuk berpikir. Bagaimanapun, semua orang - baik anak-anak maupun orang tua - mengalami hari-hari yang buruk. Ambil napas. Jika memungkinkan, temukan saat yang tenang dan Anda cukup tegaskan kembali kepada anak Anda bahwa - tidak peduli kata-kata yang diucapkan dan perasaan yang ia rasakan - Anda menyayanginya, dan tidak ada yang bisa mengubah itu.

Sumber : Suara.com