Tips Meningkatkan Fokus saat Belajar di Rumah, Pakai Seragam

Foto ilustrasi. - Antarafoto/ Ampelsa
15 Juni 2020 03:17 WIB Lajeng Padmaratri Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Wacana new normal telah mengemuka dan persiapan mulai dilakukan di berbagai sektor. Kendati demikian, pendidikan formal khususnya sekolah menjadi sektor yang paling akhir dibuka. Orang tua pun dituntut untuk dapat mendampingi anaknya belajar di rumah lebih lama.

Psikolog yang juga penulis buku tentang pengasuhan anak, Lucia Peppy Novianti, menuturkan pembukaan sekolah sebagai yang paling akhir bisa dipahami karena anak cukup rentan dalam penularan covid-19. “Anak-anak sebenarnya sudah terbiasa belajar di rumah karena akhir sesester kemaren sudah melakukannya, sekarang tinggal melanjutkan,” ujarnya, Minggu (14/6/2020).

Sejumlah problem yang kerap ditemukan dalam pembelajaran jarak jauh diantaranya adalah kebosanan anak dan sulitnya fokus pada pembelajaran. Berbeda dengan di sekolah, belajar di rumah memiliki lebih banyak distraksi, seperti makanan, televisi dan handphone, yang dapat mengganggu konsentrasi anak.

Hal ini dapat terjadi karena anak-anak khususnya yang masih belia belum cukup paham tentang kondisi yang sedang terjadi, sehingga mereka menganggap belajar jarak jauh sama dengan libur, yang akhirnya lebih banyak bermain ketimbang belajar.

Mengatasi masalah fokus ini, orang tua perlu menciptakan suasana dan ritme yang mirip dengan sekolah. Ia mencontohkan orang tua bisa membuat penjadwalan untuk anaknya belajar, menyiapkan ruangan khusus untuk belajar, bahkan memakaikan seragam untuk anaknya pada jam pembelajaran.

Di samping itu, sekolah juga dituntut untuk membangun suasana menyenangkan agar pembelajaran jarak jauh tidak terasa membosankan. Kegiatan pembelajaran menurutnya, sebisa mungkin dilakukan dengan cara yang interaktif antara anak dan pengajar.

Saat ini, sudah banyak media yang bisa digunakan untuk pembelajaran jarak jauh dan itu bisa diakses secara gratis. “Sekarang tinggal membangun nuansa, tidak hanya kasih tugas dan mengerjakan. Misal ada ruang untuk bertanya kabar, tidak hanya penilaian kognitif akademik, tapi juga berinteraksi dengan sesame teman,” ungkapnya.

Pada masa pandemi ini, ia mengakui kita harus berdamai dengan penggunaan gadget yang meningkat, termasuk untuk anak-anak. Media sosial menurutnya mampu membantu menjaga interaksi sosial antara anak dengan dunia luar.

Kendati demikian, hal ini bukan berarti membebaskan anak untuk menggunakan gadget sesuka hatinya. Untuk mengantisipasi hal ini, orang tua juga perlu memberi pemahaman kepada anak agar menggunakan gadget untuk bermain game hanya di saat tertentu, semisal dua hari sekali atau hanya saat akhir pekan.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji, mengatakan sektor pendidikan aakan dibuka paling akhir pada fase new normal. Hal ini mempertimbangkan sulitnya menjaga sosial distancing untuk anak di sekolah. “Kita tidak mau ada klaster sekolah,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya tetap menyiapkan SOP new normal untuk dunia pendidikan, salah satu poin yang diusulkan seperti pembelajaran sistem sif yang memungkinkan kelas dibagi menjadi dua, sif paigi dan sif siang, masing-masing 3,5 jam.