Di Masa Pandemi Covid-19, Berapa Kebutuhan Vitamin C Tubuh?

Vitamin C - ilustrasi
19 Juni 2020 21:07 WIB Rezha Hadyan Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Di tengah pandemi Corona, suplemen makanan, terutama yang mengandung vitamin C menjadi salah satu barang buruan masyarakat.

Bahkan harganya sempat melambung lantaran keterbatasan stok diiringi tingginya permintaan masyarakat. Mereka yang sebelumnya tak mengonsumsi suplemen makanan akhirnya ikut mengonsumsi dengan dalih meningkatkan daya tahan tubuh agar tidak terpapar Covid-19.

Apakah memang suplemen makanan sedemikian ampuh untuk meningkatkan daya tahan tubuh?

Head of Medical Management Good Doctor, Adhiatma Gunawan mengatakan suplemen makanan memang mampu memberikan manfaat bagi tubuh, terutama untuk menjaga daya tahan dari berbagai penyakit. Namun, manfaatnya menjadi hilang apabila tidak diiringi oleh pemenuhan nutrisi harian yang baik.

Baca juga: Mahasiswa Terdampak Corona Dapat Keringanan Uang Kuliah, Ini Skemanya

"Kalau nutrisi sehari-hari sudah baik ya sebenarnya tidak [dikonsumsi] juga tidak apa-apa. Tapi kalau [asupan] nutrisi harian berantakan hanya mengandalkan suplemen makanan itu jadi masalah," katanya, pada Jumat (19/6/2020).

Adapun, untuk kebutuhan nutrisi yang harus dipenuhi, menurut Adhiatma cukup penuhi seluruh  makronutrien seperti karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan lemak. Tentunya semua harus seimbang.

Kemudian yang tak kalah penting untuk menjaga daya tahan tubuh adalah istirahat dan olahraga yang cukup. Dia menyebut banyak masyarakat urban yang nutrisinya sudah sangat baik tetapi kurang berolahraga dan waktu istirahatnya jauh dari kata ideal.

Baca juga: Waswas dengan Covid-19, 2 Pengawas Pemilu di Bantul Mundur

Alhasil, daya tahan tubuh menjadi kurang baik dan rentan terpapar penyakit. "Olahraga harus cukup, istirahat juga penting. Sekarang banyak kan yang waktu istirahat malah digunakan marathon film sampai subuh," ujar Adhiatma.

Kurangnya waktu istirahat menurutnya juga berimplikasi pada produktivitas. Alih-alih mampu mengerjakan banyak hal pada pagi hingga sore hari, justru lemas dan sulit berpikir.

"Saat bekerja jadi banyak melakukan kesalahan juga. Ini kan tidak baik. Sudah tidak sehat kena marah juga pastinya kan dari atasan buat kalian yang bekerja," selorohnya.

Baca juga: Permohonan Melonjak Signifikan, Layanan SIM di Gunungkidul Buka Lebih Pagi

Sementara itu, terkait dengan suplemen makanan Ahli Gizi dr. Tan & Remanlay Institute dr. Tan Shot Yen punya pandangan berbeda. Dia menilai suplemen makanan, khususnya vitamin C sama sekali tidak diperlukan oleh tubuh orang yang sehat.

"Makan buah, [suplemen makanan] tablet hanya untuk pasien. Buah tidak hanya vitamin C, serat tidak larut adalah prebiotik dalam usus besar. Prebiotik subur, imunitas meningkat," katanya ketika dihubungi oleh Bisnis pada Jumat (19/6/2020).

Kemudian khusus untuk vitamin C, menurut Tan suplemen makanan yang beredar di pasaran kandungan vitamin C-nya terlampau tinggi dari kebutuhan harian yang ideal.

Kebanyakan suplemen makanan mengandung vitamin C lebih dari 100mg. Padahal kebutuhan harian vitamin C harian untuk laki-laki dan perempuan dewasa masing-masing hanya 90mg dan 75mg.

"Khusus untuk ibu hamil 85mg, menyusui 120mg, bagi mereka yang merokok ditambah 35mg lagi dari kebutuhan normal," paparnya.

Sumber : Bisnis.com