Makan Ternyata Bisa Tingkatkan Kebahagiaan

Ilustrasi makanan - Pixabay
18 Juli 2020 00:27 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Hormon dopamin berfungsi mengirimkan sinyal antara sel-sel saraf di otak dan menciptakan rasa bahagia. Dopamin bisa ditingkatkan dengan pola hidup sehat, termasuk olahraga dan makanan.

Pelatih kebugaran sekaligus ahli gizi di India, Diksha Chhabra, mengakui bahwa dalam kebanyakan kasus, makanan yang kaya kandungan gula dan lemak, menyebabkan peningkatan kadar hormon dopamin. Tetapi, sebaiknya pilihlah yang sehat demi kesehatan jangka panjang Anda.

"Ketika Anda membuat perubahan dari makanan yang tidak sehat ke resep yang lebih sehat, Anda mulai merasa bahagia, sehat dan baik tentang segalanya, karena lonjakan dopamin," kata dia seperti dilansir Indian Express.

Chhabra menyarankan perubahan pola makan dan gaya hidup berikut untuk mencapai tujuan kesehatan jangka panjang.

1. Makan makanan teratur. Hal ini untuk mencegah perubahan hormon secara tiba-tiba, membantu mengatur nafsu makan Anda, sekaligus mengurangi kemungkinan makan berlebihan di malam hari. Jumlah yang cukup di semua makanan bisa membuat Anda cenderung merasa puas.

“Nikmati makan Anda hingga empat hingga lima kali sehari, dan hindari diet ketat,” kata Chhabra.

2. Tambahkan daging tanpa lemak, telur, dan susu dalam menu makanan sehari-hari Anda, karena dapat membantu menjaga Anda kenyang untuk waktu yang lebih lama, dan meningkatkan kadar dopamin.

3. Tambahkan karbohidrat kompleks ke dalam diet Anda. Karbohidrat yang termasuk dalam indeks glikemik rendah (GI) seperti gandum, membantu melepaskan gula secara bertahap dalam aliran darah. Makanan ini membuat Anda tetap energik sepanjang hari, selain meningkatkan kadar dopamin.

4. Pilihlah lemak sehat. Lemak tak jenuh tunggal dan tak jenuh ganda ditemukan dalam zaitun, minyak wijen, alpukat, almond, kenari, dan ikan seperti tuna.

“Lemak dalam asupan makanan memiliki kaitan langsung dengan aktivitas dopamin di otak. Sumber lemak yang baik membantu aktivitas saraf dan kognitif yang lebih baik," demikian tutur Chhabra.

Sumber : Antara