Sering Nonton Film Porno Bisa Mengurangi Gairah Seks dengan Pasangan?

ilustrasi. - Reuters
21 Juli 2020 00:37 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Menonton film porno bisa membantu meningkatkan gairah seksual seorang pria. Namun perlu diwaspadai bahwa terlalu banyak menonton film porno berbanding lurus dengan memburuknhya fungsi ereksi.

Menonton film porno juga dikaitkan dengan ketidakpuasan yang lebih besar dengan seks "normal", dengan hanya 65% responden menilai seks dengan pasangan lebih merangsang daripada seks porno. Semua itu terungkap dalam penelitian yang disajikan di Kongres virtual EAU dilansir dari Suara.com--jaringan Harianjogja.com. 

Para peneliti dari Belgia, Denmark dan Inggris membentuk kuesioner online, yang diiklankan terutama untuk pria di Belgia dan Denmark melalui media sosial, poster, dan selebaran. 3.267 pria menjawab 118 pertanyaan, menjawab pertanyaan tentang masturbasi, frekuensi menonton film porno, dan aktivitas seksual dengan pasangan.

Kuisioner berkonsentrasi pada pria yang melakukan hubungan seks dalam empat minggu sebelumnya, yang memungkinkan tim untuk menghubungkan efek menonton pornografi pada aktivitas seksual. Kuesioner memasukkan pertanyaan dari fungsi ereksi standar dan survei kesehatan seksual.

Kepala peneliti Profesor Gunter de Win dari University of Antwerp dan University Hospital Antwerp mengatakan,dalam sampel mereka, pria menonton cukup banyak film porno, rata-rata sekitar 70 menit per minggu.

Mereka juga menemukan bahwa sekitar 23% pria di bawah 35 tahun yang merespons survei memiliki beberapa tingkat disfungsi ereksi saat berhubungan seks dengan pasangan.

"Angka ini lebih tinggi dari yang kami perkirakan. Kami menemukan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara waktu yang dihabiskan menonton film porno dan meningkatnya kesulitan dengan fungsi ereksi dengan pasangan, seperti ditunjukkan oleh fungsi ereksi dan skor kesehatan seksual," kata Profesor de Win berkata.

Orang-orang yang menonton lebih banyak film porno juga mendapat skor tinggi dalam skala kecanduan porno. Meski demikian, penting diingat bahwa ini adalah kuesioner dan bukan uji klinis.

Artinya bisa jadi orang-orang yang merespons tidak sepenuhnya representatif dari seluruh populasi laki-laki. Namun, karya ini dirancang untuk membongkar hubungan antara pornografi dan disfungsi ereksi, dan mengingat ukuran sampel yang besar, kita bisa cukup yakin tentang temuan ini. "

Sumber : suara.com