Survei: 348 Juta Orang Mengalami Inkontinensia Urine, Ini Penjelasannya..

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
02 Agustus 2020 06:57 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Angka harapan hidup penduduk Indonesia telah meningkat dari 66 tahun menjadi 71,2 tahun. Namun warga lanjut usia atau lansia, merupakan kelompok yang rentan mengalami masalah kesehatan. Salah satunya adalah Inkontinensia urine atau IU.

IU sendiri merupakan salah satu gejala dalam sindrom klinis berupa melemahnya otot kandung kemih. Akibatnya, lansia kesulitan menahan keluarnya urin dengan ditandai pengeluaran urin tanpa disadari. Masalah gangguan kesehatan IU sendiri dikenal memiliki tiga tipe yang berbeda. Pertama, urine bocor  atau keluar saat stres atau terjadi tekanan dikandung kemih.

Kedua, tidak dapat menahan buang air kecil ketika dorongan muncul. Dan ketiga, adalah golongan IU berat yang terjadi karena kandung kemih sama sekali tidak mampu menampung urine, sehingga penderitanya tidak bisa mengontrol keluarnya urine.

BACA JUGA : Iih Sudah Dewasa Kok Masih Ngompol, Kenapa Ya?  

Dari penelitian EPIC (Expanded Prostate Cancer Index Composite) yang dilakukan pada 2008, secara global ditemukan sekitar 348 juta orang di dunia pernah mengalami IU. Survey yang dilakukan di berbagai negara Asia didapatkan bahwa prevalensi pada beberapa bangsa Asia adalah 12,2% (14,8% pada perempuan dan 6,8% pada laki-laki) juga menderita IU.

Dari buku Panduan Tata Laksana Urine pada Dewasa Edisi ke-2 yang ditulis oleh Perkumpulan Kontinensia Indonesia (PERKINA) dan dirilis oleh Penerbit Ikatan Ahli Urologi Indonesia tahun 2018, disebutkan prevalensi total penderita IU di Indonesia sebesar 13%.

Penelitian epidemiologi tersebut dipublikasikan pada tahun 2014 dan melibatkan enam rumah sakit pendidikan yaitu: Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Medan dengan 2.768 responden. Untuk itu, diperlukan solusi dan perhatian serius serta langkah yang tepat sebagai solusi dari permasalahan tersebut.

BACA JUGA : HARI LANJUT USIA 2019: Ajari Generasi Muda soal Lansia

Salah satunya adalah ketersediaan popok dewasa yang diperuntukkan bagi pengguna dengan kondisi inkontinensia berat. Karena digunakan berjam-jam dan bisa menampung urine berkali-kali, popok juga harus mengandung antibakteri guna menghambat pertumbuhan bakteri penyebab gatal dan mencegah terjadinya iritasi kulit.

“Kandungan SAP Anti Bacteria berfungsi menghambat tumbuhnya bakteri, dimana mikro organisme tersebut adalah salah satu penyebab utama munculnya bau," kata Head of Marketing Adult Care PT Softex Indonesia, Nirma Sofiawati.

SAP Anti Bacteria sendiri bekerja menghambat pertumbuhan bakteri sehingga dapat mencegah terjadinya gatal dan iritasi kulit. Selain itu, popok juga baiknya didesain tidak mengganggu kenyamanan dan merusak penampilan orang dewasa serta yang tak kalah penting, ramah lingkungan dan dapat didaur ulang.

Sumber : Suara.com