Pakar: Kelas Online Tak Baik Bagi Kesehatan Anak

Ilustrasi aktivitas online di rumah. - Dok: Telkom/Suara.com
07 Agustus 2020 17:57 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Belajar daring kini jadi kebiasaan sehari-hari di masa pandemi Covid-19.

Saat ini anak-anak sekolah masih melakukan proses belajar mengajar melalui kelas online untuk mencegah penyebaran virus corona Covid-19.

Tak sedikit anak-anak sekolah yang merasa bosan dengan kelas online. Sebab, mereka tidak bisa bertemu dengan teman-teman sekolah, bermain seperti biasanya dan perubahan lain akibat pandemi Covid-19.

Selain itu, kelas online juga berdampak pada kesehatan anak-anak sekolah. Menurut Dr Anil Kumar, dokter mata, banyak anak-anak yang mulai mengeluhkan sensasi terbakar, mata berair dan sakit kepala.

Semua kondisi yang dikeluhkan anak-anak bisa disebabkan oleh paparan layar laptop dan komputer terus-menerus selama berjam-jam yang membuat mata stres.

"Peningkatan penggunaan waktu layar bisa menyebabkan perilaku menetap pada anak-anak remaja, penurunan metabolisme dan gangguan pada siklus tidur," kata Dr Anil dikutip dari Times of India.

Mantan ahli bedah mata, Raghubir Ojha juga menunjukkan bahwa kelas online melalui aplikasi Zoom, WhatsApp atau media lainnya terlalu membebani mata anak.

"Kami menyebut kondisi ini sebagai Computer Vision Syndrome. Duduk dalam satu posisi tubuh selama berjam-jam bisa membuat sirkulasi darah di otak tersendat dan suplai oksigen berkurang," jelas Raghubir Ojha.

Kondisi itulah yang menyebabkan rasa sakit dan sensasi terbakar di mata. Karena itu, ia meminta kepada orangtua dan guru untuk memberikan waktu istirahat selama 20 menit selama tiap kelas online berlangsung.

Seorang warga Anadpuri, mengklaim bahwa putrinya yang seorang siswa kelas VI telah mengeluh sakit kepala parah dan iritasi mata konstan selama seminggu.

Saat konsultasi dengan dokter mata, ia diminta untuk menghindari kontak terlalu lama dengan komputer, laptop dan ponsel.

Hal serupa juga dialami oleh Nageshwar Prasad, seorang lansia yang tinggal di wilayah Kadamkuan. Ia mengatakan cucunya lebih sering menatap ponsel dan menggosok mata akibat kelas online. Padahal keluarga telah membatasi cucunya bermain gadget sebelum terjadi pandemi virus corona Covid-19 dan harus kelas online.

Guru Sekolah Umum India Sujata Chandra mengakui bahwa beberapa anak mengeluh sakit kepala dan iritasi serta kurang konsentrasi setelah kelas online.

Namun, direktur sekolah Vinayak Yasraj mengklaim bahwa setiap kelas diadakan hanya selama 35 hingga 40 menit. Bahkan anak-anak juga diberikan waktu istirahat 10 menit setiap kelas online.

Guru Sekolah Menengah Biara St Joseph mengatakan bahwa kelas-kelas dilakukan sedemikian rupa agar siswa tidak perlu lama-lama menatap layar komputer.

Karena itu, guru-guru masih meminta para siswanya membaca buku dan mereka tinggal menjelaskan topiknya dalam bahasa sederhana dalam kelas online yang singkat.

Sumber : Suara.com