Advertisement

Waspadalah! Penderita Kanker Paru Rentan Kena Covid-19 jika Menunda Pengobatan

Gloria Fransisca Katharina Lawi
Sabtu, 08 Agustus 2020 - 16:27 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Waspadalah! Penderita Kanker Paru Rentan Kena Covid-19 jika Menunda Pengobatan Ilustrasi - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA – Pandemi Covid-19 menimbulkan kecemasan bagi banyak orang, salah satunya penderita kanker paru-paru.

Menurut dr. Sita Laksmi Andarini, SpP(K), Ph.D kanker paru adalah jenis kanker yang berhubungan erat dengan orang berisiko. Dalam hal ini risiko paling tinggi dari penderita kanker paru dimiliki oleh orang yang merokok.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Sita menjelaskan hal ini diperparah dengan kondisi prevalensi perokok di Indonesia yang terus mengalami kenaikan. Dalam prevalensi aktivitas merokok di dunia, Indonesia menepati posisi ketiga setelah China dan India.

“Jadi dengan tingginya prevalensi perokok di Indonesia, angka kanker paru sulit berkurang, malah bertambah apalagi seiring dengan meningkatnya perokok usia muda,” kata Sita dalam diskusi melalui IG Live bersama CISC Indonesia, Sabtu (8/8/2020).

Menurut Sita selama masa pandemi ini sejumlah metode pengobatan kanker paru terkendala akibat pembatasan sosial. Meski demikian, para penderita kanker paru tidak boleh sampai mengabaikan atau melewatkan serangkaian pengobatan yang sudah ditentukan oleh dokter.

“Misalnya imunoterapi, kemoterapi mungkin juga bisa jadi terkendala, tapi obat-obatan dan penerapan protokol kesehatan jangan diabaikan,” tuturnya,

Sita menyebutkan seseorang yang berhenti melakukan perawatan kanker paru, baik kemoterapi maupun obat-obatan, akan lebih rentan pada penyakit lain termasuk Covid-19.

Dia memberi contoh penghentian sementara pengobatan ibarat merontokkan lagi blokade atau sistem pencegahan yang sudah dibangun selama pengobatan.

Advertisement

Metode pengobatan tak hanya kemoterapi dan imunoterpi. Kini penderita kanker sudah memiliki ragam treatment baru dan obat yang bisa dimanfaatkan sesuai ketentuan dari dokter.

“Yang paling penting pengobatan jangan terlambat, tata laksana langsung treatment. Misalnya tak mau kemoterapi tapi tetap harus mau kalau penderita diarahkan biopsi. Memang menyeramkan ada banyak alat masuk ke badan, tapi kalau tak diobati sama sekali jauh lebih berbahaya,” terangnya.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Piala Dunia 2022

Advertisement

alt

Pura-Pura Jadi Pembeli, Pria Ini Sikat HP di Sejumlah Warung di Bantul

Bantul
| Rabu, 30 November 2022, 21:07 WIB

Advertisement

alt

Luhut Ingin Gilas Oknum yang Hambat Investasi Masuk Indonesia

News
| Rabu, 30 November 2022, 19:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement