Peneliti: Kelembapan Udara Jadi Faktor Penularan Virus Corona

Ilustrasi virus corona di udara
19 Agustus 2020 12:47 WIB Syaiful Millah Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Sebuah penelitian yang berfokus di wilayah Greater Sydney selama tahap awal pandemi Covid-19 menunjukkan adanya hubungan kelembapan yang lebih rendah dan peningkatan penularan penyakit di komunitas.

Penelitian yang dipimpin oleh Michael Ward, seorang ahli epidemiologi di Sydney School of Veterinary Science di University of Sydney, bersama dengan dua peneliti dari lemaga mitra Fudan University School of Public Health di Shanghai mengkonfirmasi hubungan kelembapan dan penularan virus corona baru.

“Studi ini menambah bukti bahwa kelembapan adalah faktor kunci dalam penyebaran Covid-19,” kata Ward seperti dikutip Science Daily, Rabu (19/8/2020).

BACA JUGA : WHO Sebut Virus Corona Sangat Mungkin Menyebar

Kelembapan yang lebih rendah dapat didefinisikan sebagai ‘udara kering’. Studi tersebut memperkirakan bahwa untuk penurunan kelembapan relatif sebesar 1 persen, kasus Covid-19 dapat meningkat sebesar 7-8 persen.

Perkiraannya adalah sekitar 2 kali lipat peningkatan dalam kasus Covid-19 ketika terjadi penurunan kelembapan relatif sekitar 10 persen.

“Udara kering tampaknya mendukung penyebaran Covid-19, artinya waktu dan tempat menjadi penting. Bukti yang terkumpul menunjukkan bahwa iklim adalah faktor dalam penyebaran Covid-19 dan meningkatkan kemungkinan wabah penyakit musiman,” imbuh Ward.

Dia mengatakan ada alasan biologis mengapa kelembapan penting dalam penularan virus di udara. Saat kelembapan lebih rendah, udara menjadi lebih kering dan membuat aerosol lebih kecil. Selanjutnya, ketika seseorang bersin dan batuk, aerosol infeksius yang lebih kecil itu dapat bertahan lama di udara.

BACA JUGA : Soal Penyebaran Virus Corona di Udara, Begini

Hal tersebut meningkatkan keterpaparan pada orang lain. Dia melanjutkan ketika udaranya lebih lembap dan aerosol lebih besar dan berat, mereka jauh dan mengenai permukaan dengan lebih cepat. Sama-sama berisiko tetapi penyebaran di udara lebih perlu diwaspadai.

“Hal ini juga menunjukkan perlunya orang memakai masker, baik untuk mencegah aerosol yang menular keluar dalam kasus individu yang terinfeksi dan paparan aerosol yang menular dalam kasus individu yang tidak terinfeksi,” tandasnya.

Beberapa temuan menarik dari penelitian ini adalah bukti tambahan dari epidemi Covid-19 Sydney yang makin mengkonfirmasi kasus terkait dengan kelembapan. Selain itu, kelembapan yang berkurang ditemukan di beberapa wilayah berbeda di Sydney, yang konsisten dikaitkan dengan peningkatan kasus.

Studi juga mencatat bahwa hubungan yang sama tidak ditemukan untuk faktor cuaca lainnya seperti hujan, suhu, atau angin. Adapun, kondisi iklim yang kondusif untuk penyebaran Covid-19 menjadi tantangan bagi kesehatan masyarakat.

BACA JUGA : Ini Penjelasan WHO tentang Penyebaran Virus Corona Lewat 

Kendati demikian, para peneliti juga mencatat diperlukan studi lebih lanjut tentang kelembapan untuk menentukan bagaimana hubungan kelembapan bekerja dan sejauh mana hal itu mendorong tingkat penyebaran kasus Covid-19.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia