Epidemiolog: Rapid Test Tak Cukup Sekali

Petugas medis menunjukkan alat tes cepat (rapid test) COVID-19 buatan dalam negeri di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Kamis (9/7/2020). Pemerintah meluncurkan alat tes cepat COVID-19 yang diberi nama RI-GHA Covid-19 dan menargetkan dapat diproduksi sebanyak 200 ribu rapid pada Juli dan 400 ribu di Agustus 2020. ANTARA FOTO - Arnold
09 September 2020 17:07 WIB Desyinta Nuraini Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Rapid test dianggap tidak signifikan untuk upaya penanggulangan Covid-19 di dalam perjalanan. Hal tersebut disampaikan oleh pakar Epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI), Syahrizal Syarif.

Adapun kemarin sempat ramai mengenai Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/413/2020 Tentang Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), yang menyebut pelaku perjalanan baik domestik dan internasional sudah tidak ada lagi keterangan mewajibkan tes rapid maupun swab.

Sementara, untuk penemuan kasus baru dilakukan dengan pengecekan suhu tubuh di pintu masuk wilayah baik melalui bandara, pelabuhan, atau stasiun.

Namun Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto dalam keterangan resmi menegaskan penggunaan rapid test tetap dilakukan pada situasi tertentu seperti dalam pengawasan pelaku perjalanan.

Baca Juga: Piet Pagau Positif Covid-19, Ini Profil Aktor Era 80-an Ini...

"Dampaknya nggak banyak untuk upaya penanggulangan, itu menjadi syarat perjalanan saja," ujar Syarif kepada Bisnis, Rabu (9/9/2020).

Dijelaskannya, untuk upaya penanganan sebaiknya rapid test dilakukan dua kali yang berjarak antara 7-10 hari, sebelum calon penumpang melakukan perjalanan baik domestik maupun internasional.

"Ada tidak ada, nggak ada dampaknya kalau rapid rest cuma satu kali. Omong kosong. Tidak berdampak pada upaya pencegahan," tegas Syarif.

Baca Juga: Ada Akun Twitter Unggah Resep Rawon Kuah Kuning, Warganet: Rajin Luluran Jadi Kuahnya Kuning Langsat

Lebih baik untuk upaya meminimalisir penularan virus corona dalam perjalanan, Syarif menyarankan agar penumpang lebih baik melakukan test swab (PCR).

"Harusnya PCR untuk pergerakan orang, kalau mau serius, dengan konsekuensi hasilnya lambat. Bahwa harganya mahal, soal lain lagi," sebutnya.

Lantas bagaimana dengan test suhu di destinasi wisata? Syarif menganggap hal tersebut tidak banyak berpengaruh terhadap upaya menurunkan kasus. "Karena orang dalam perjalannya cuma beberapa jam, sementara masa inkubasi (Covid-19) bisa 14 hari. Dalam menangkap orang positifnya banyak yang lolos," pungkasnya.

Sumber : bisnis.com