Dibanding Negara Maju Usia Pasien Kanker Usus Besar di Indonesia Lebih Muda

Kanker usus besar. - UGM
13 September 2020 06:37 WIB Gloria Fransisca Katharina Lawi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Cancer Information Support Center (CISC) mengadakan sesi edukasi masyarakat mengenai kanker usus besar alias kolorektal melalui saluran digital Instagram Live.

Dokter spesialis bedah digestif, Abdul Hamid Rochanan, mengungkapkan kanker usus besar atau kanker kolorektal adalah masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di Indonesia. Apalagi kanker usus besar saat ini termasuk di antara tiga kanker tertinggi sering terjadi.

Dia menjelaskan, berdasarkan studi epidemiologi, pasien kanker kolorektal atau kanker usus besar di Indonesia lebih muda dibandingkan pasien di negara maju. Lebih dari 30 persen kasus terjadi pada pasien usia 40 tahun atau lebih muda.

Abdul menekankan pentingnya untuk mengenali gejala dan faktor risiko kanker usus besar serta melaksanakan kelanjutan terapi meski dalam masa pandemi Covid-19 dengan tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Dengan semakin banyaknya kasus kanker kolorektal khususnya pada pasien usia produktif. Oleh sebab itu semakin jelas kanker kolorektal merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia.

Kunci utama keberhasilan penanganan kanker kolorektal adalah ditemukannya kanker dalam stadium dini. Namun sebagian besar pasien di Indonesia datang dalam stadium lanjut sehingga angka harapan hidup rendah, terlepas dari terapi yang diberikan.

Sampai saat ini, prognosis untuk pasien kanker kolorektal stadium metastatik masih buruk, dengan angka kelangsungan hidup 5 tahun hanya sekitar 13 persen.

Dalam sesi IG Live tersebut, dokter Abdul Hamid mengatakan kunci utama keberhasilan penanganan kanker kolorektal adalah ditemukannya kanker dalam stadium dini. Sehingga terapi dapat dilaksanakan secara bedah kuratif yang bertujuan untuk mengangkat sumber keganasan.

"Oleh karena itu sangat penting untuk mengenali gejala dan faktor risiko kanker serta melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan diagnosis," ungkapnya.

Meski di masa pandemi Covid-19, bukan berarti pasien melakukan skrining, diagnosis dan terapi yang sub-standar. Pasien memiliki hak untuk mendapatkan terapi yang benar. Dia menekankan, penanganan kanker kolorektal yang berkelanjutan (continuum care) yang optimal tetap perlu dilakukan.

"Pasien dapat terus menjalankan terapi di Indonesia dimana berbagai pilihan terapi kanker kolorektal termasuk terapi target telah tersedia,”  tuturnya.

Selain menyarankan untuk tetap menjalin komunikasi dengan dokter yang merawat dan disiplin untuk mengikuti rekomendasi dokter, dr Hamid juga menyampaikan pesan untuk pasien agar tetap menjaga pikiran agar selalu positif.

Aryanthi Baramuli Putri, Ketua Cancer Information dan Support Center menyampaikan pada masa pandemi Covid-19 ini, pasien kanker, sebagai kelompok berisiko tinggi juga memiliki kekhawatiran terkait kelangsungan pengobatan mereka.

Pada masa pandemi Covid-19 saat ini, keterlambatan diagnosis dan terapi dapat berdampak kurang baik bagi pasien.

"Dilandasi semangat kami, Cancer Information and Support Center (CISC) sebagai komunitas kanker turut berperan serta dalam melakukan edukasi seputar kanker serta memberi dukungan motivasi melalui saluran media sosial yang terbukti lebih efektif menjangkau masyarakat luas, terlebih di masa pandemi Covid-19 ini," kata Aryanthi.

Sumber : Bisnis.com