Benarkah Perempuan Lebih Overthinking dari Laki-laki? Studi Ini Membuktikannya

Ilustrasi. - Freepik
17 September 2020 07:27 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Sebuah survei pencitraan otak terbesar yang pernah dilakukan, akhirnya membuktikan bahwa stereotip populer yang mengatakan bahwa perempuan lebih sering memikirkan banyak hal dibanding laki-laki terbukti benar.

Menganalisis data lebih dari 45.000 hasil penelitian, para periset di Amen Clinics California menyimpulkan bahwa otak perempuan secara signifikan lebih aktif daripada laki-laki.

Baca juga: Ini Manfaat Kesehatan Memiliki Anak di Awal Usia 20-an Tahun

Dikatakan juga, aliran darah di otak perempuan jauh lebih tinggi dibanding laki-laki sehingga dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk fokus dan berempati namun juga rentan merasa cemas.

Subjek penelitian termasuk 119 sukarelawan sehat dan 26.683 pasien dengan berbagai kondisi kejiwaan seperti trauma otak, gangguan bipolar, gangguan mood, skizofrenia atau gangguan psikotik, dan ADHD.

Secara total, 128 daerah otak dianalisis terlebih dahulu saat peserta beristirahat dan dilanjutkan saat melakukan tugas konsentrasi.

Baca juga: Bahaya yang Timbul Jika Suka Mencoba Makeup Sembarangan

Dikatakan peneliti, temuan tersebut dapat digunakan untuk menyelesaikan beberapa argumen yang biasa terjadi pada pasangan.

Para ilmuwan bahkan menambahkan, temuannya menawarkan wawasan penting mengapa kelainan otak tertentu lebih sering terjadi pada perempuan seperti Alzheimer dan ADHD pada laki-laki.

Otak perempuan ditemukan jauh lebih aktif daripada laki-laki, terutama pada dua wilayah yaitu korteks prefrontal yang terkait dengan kontrol fokus dan impuls, dan sistem limbik, yang dikaitkan dengan suasana hati dan kecemasan.

Sementara untuk laki-laki, bagian otak yang lebih aktif khususnya ada pada pusat penglihatan dan koordinasi otak. Ini juga merupakan sebuah jawaban mengapa perempuan cenderung menunjukkan kekuatan yang lebih besar di bidang empati, intuisi, kolaborasi, pengendalian diri dan perhatian yang tepat.

Peneliti juga dapat menjelaskan peningkatan kerentanan perempuan terhadap kecemasan, depresi, insomnia dan gangguan makan. Penelitian dilakukan dengan melihat studi pencitraan tomografi emisi foton emisi tunggal atau SPECT.

"Ini adalah studi yang sangat penting untuk membantu memahami perbedaan otak berbasis gender," kata penulis utama dan pendiri Amen Clinics Inc, Dr Daniel G Amen.

"Perbedaan kuantitatif yang kami identifikasi antara laki-laki dan perempuan penting untuk memahami risiko berbasis gender untuk gangguan otak seperti penyakit Alzheimer. Menggunakan alat neuroimaging fungsional, seperti SPECT, sangat penting untuk mengembangkan pengobatan otak presisi di masa depan," tambahnya.

Sumber : Suara.com