Hasil Penelitian, 86 Persen Orang Positif Covid-19 Tanpa Gejala

Ilustrasi. - Freepik
09 Oktober 2020 14:47 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Para peneliti di University College London mengungkap tanda yang muncul dari orang yang positif Vorus Covid-19. Hasilnya mengejutkan, sebagian besar orang yang dites positif Covid-19, tidak memiliki gejala apa pun.

Penelitian terbaru mengungkapkan, sekitar 77 persen orang yang menerima hasil positif virus corona antara akhir April dan Juni lalu, tidak menunjukkan gejala pada hari tes mereka, sementara 86 persen tidak mengalami batuk, peningkatan suhu tubuh atau kehilangan rasa/bau.

Baca juga: Hasil Penelitian di Jepang, Virus Corona Baru Dapat Bertahan Hidup di Kulit Selama 9 Jam

Para peneliti tersebut menganalisis data dari survei infeksi virus korona dari Office for National Statistics (ONS), yang menguji ribuan rumah setiap minggu, terlepas dari apakah orang-orang memiliki gejala. Analisis tersebut melihat data dari 36.061 orang yang menjalani tes antara 26 April dan 27 Juni lalu.

Sebanyak 115 (0,32 persen) memiliki hasil tes positif, studi menemukan, 27 (23,5 persen) di antaranya bergejala dan 88 (76,5 persen) tidak menunjukkan gejala pada hari tes.

Ketika melihat tiga gejala utama Covid-19, batuk, demam, dan kehilangan rasa/bau, 86,1 persen dari mereka yang dites positif tidak memiliki gejala-gejala ini.

Baca juga: Mata Juling Bisa Diperbaiki Jika Ditangani Sejak Dini

Profesor Irene Petersen, yang memimpin penelitian tersebut, memperingatkan pengujian yang lebih luas diperlukan karena mungkin ada banyak "pemancar diam" yang menularkan penyakit tanpa menyadarinya.

"Anda mungkin berada di luar masyarakat dan mereka tidak mengisolasi diri karena mereka tidak tahu bahwa mereka positif," katanya kepada kantor berita PA, dilansir laman Independent, Jumat (9/10/2020).

Dia mengatakan, mahasiswa adalah satu kelompok yang harus dites secara teratur. Para peneliti mengatakan, ada kebutuhan untuk mengubah strategi pengujian.

"Untuk menangkap penularan 'diam' dan berpotensi mencegah wabah di masa depan, program uji harus melibatkan pengujian (Covid-19) yang sering dan meluas terhadap semua individu, tidak hanya kasus simptomatik, setidaknya di pengaturan berisiko tinggi atau lokasi tertentu," tulis mereka dalam jurnal Clinical Epidemiology.

Sebaliknya, Tim Spector, profesor epidemiologi genetik di King's College London, yang memimpin aplikasi Covid Symptom Study, mengatakan data dari lebih dari empat juta orang yang menggunakan aplikasi dan melaporkan gejala selama seminggu, menemukan 85 persen orang dewasa melaporkan demam, batuk atau kehilangan rasa/bau.

"Tetapi data tentang anak-anak dan orang berusia di atas 65 tahun dari aplikasi CSS memberi tahu kami cerita yang berbeda," ujarnya.

Sementara Paul Hunter, profesor kedokteran di University of East Anglia, mengatakan studi UCL tidak dapat menentukan proporsi orang dengan Covid-19 yang menjadi bergejala atau tetap asimtomatik pada tahap tertentu selama infeksi mereka, karena terlihat pada waktu yang tetap.

Sumber : Suara.com