Astrofisikawan Ungkap Korelasi Seni pada Kecerdasan Anak

Anak melukis
15 Oktober 2020 10:07 WIB Gloria Fransisca Katharina Lawi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -- Seni atau arts, seringkali terlupakan sebagai komponen penting dalam kurikulum pendidikan dan tumbuh kembang anak, karena kalah dengan cabang ilmu lain, khususnya sains dan teknologi, sekalipun seni berkemampuan mendorong daya imajinasi dan analitis anak.

Kerap kali tradisi dan belajar seni menjadi kegiatan tambahan atau sekadar ekstrakurikuler, ketimbang sebagai sebuah cabang ilmu yang setara dengan sains atau teknologi. 

Padahal kini sedang berkembang skema STEAM singkatan untuk Sains (science), Teknologi (technology), Teknik (engineering), Seni  (art) dan Matematika (mathematic). Seperti dikutip di www.affordablecollegesonline.org, Rabu (14/10/2020), istilah ini diciptakan di Sekolah Desain Pulau Rhode (RIDS).

Baca juga: Australia Berencana Terapkan Resep Dokter untuk Beli Rokok

STEAM sendiri menggambarkan peran seni dalam desain dan sains.

Salah satu pendiri awal Georgette Yakman, yang dikutip dari www.affordablecollegesonline.org menyebut STEAM sebagai “Sains dan Teknologi, yang ditafsirkan melalui Teknik dan Seni, semua berdasarkan unsur-unsur matematika.”

STEAM adalah sebuah pendekatan pembelajaran terpadu yang mendorong siswa untuk berpikir lebih luas tentang masalah di dunia nyata.

Baca juga: 50 Wastafel di Malioboro Rusak Gara-gara Demonstrasi UU Ciptaker

STEAM juga mendukung pengalaman belajar yang berarti dan pemecahan masalah, dan berpendapat bahwa sains, teknologi, teknik, seni dan matematika saling terkait.

Dalam STEAM, sains dan teknologi dapat diartikan melalui seni dan teknik, termasuk juga komponen matematika.

Namun hingga saat ini postur kurikulum pendidikan di Indonesia masih dominan mengadopsi skema STEM yakni sains, teknologi, teknik, dan matematika ketimbang STEAM yakni sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika.

Salah satu astrofisikawan Indonesia, Premana W. Premadi mengungkapkan adanya relasi kuat keterlibatan seni dalam pendidikan dan tumbuh kembang anak. 

Dia menilai, cabang ilmu seni misalnya seni tari, seni musik, seni lukis, atau seni menyanyi sangat mendorong daya imajinasi anak.

Pertumbuhan daya imajinasi siswa diyakini akan sangat membantu perkembangan kemampuan berpikir kritis anak terhadap kondisi di sekitarnya dan mendorong cara dia merespon.

“Saya misalnya sudah lama cinta pada musik, yang ternyata sangat berdampak pada kesukaan saya di bidang astronomi karena membantu saya melihat alam semesta dengan struktur yang lebih jelas sekaligus indah,” kata Nana dalam konferensi pers bersama Koalisi Seni beberapa waktu yang lalu.

Dia menilai, kehadiran seni atau arts juga sangat mendorong pengembangan akal budi seseorang. Seni sangat mempengaruhi kerja rasio, kejiwaan, dan kemampuan mendeskripsikan, merespon, dan menciptakan hal-hal yang bersifat estetik. 

“Semakin dini anak terekspose dengan kualitas hidup estetik, maka dia punya kekuatan rasional dan melalui penghalusan dari akal budi,” sambungnya.

Sumber : Bisnis.com