Meski Bawa Kenikmatan, Hubungan Seks saat Menstruasi Bisa Berbahaya

Ilustrasi kehidupan seksual. - Telegraph
03 November 2020 10:57 WIB Newswire Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Berhubungan seksual saat sedang menstruasi tergolong tak biasa dan tabu. Namun beberapa wanita mungkin senang berhubungan seksual selama masa ini.

Dr Yasmin Tan, seorang ginekolog dari Women's Health and Research Institute of Australia pernah menceritakan seorang pasiennya yang melakukan hubungan seks selama menstruasi.

Pasiennya mengaku orgasme saat hubungan seks membantu meredakan kram menstruasi. Dr Tan pun mengatakan ada bukti anekdotal pada orang lain yang mengalami pendarahan.

Dr Tan mengatakan hubungan seks selama menstruasi juga bisa bertindak sebagai pengangkat suasana hati. Karena dilansir dari ABC, seks memicu pelepasan zat kimia neuro dan endorfin yang membuat orang merasa nyaman.

Bahkan seks bisa berfungsi sebagai pelumas alami. Tapi, beberapa kesalahpahaman seputar seks saat menstruasi bisa mengesampingkan manfaat ini.

Meski hubungan seks selama menstruasi memberikan manfaat, ada pula risiko yang perlu diketahui sebelum melakukannya.

Dr Tan mengatakan seorang wanita masih bisa hamil bila melakukan hubungan seks tanpa alat kontrasepsi selama menstruasi.

"Peluang kehamilan ini mungkin kecil kemungkinannya bagi sebagian orang, tapi bukan aturan yang absolut," jelasnya.

Terkadang, seorang wanita tidak mengalami pendarahan karena tepat periode menstruasi. Kondisi itu bisa juga pendarahan yang tidak teratur sehingga ovulasi bisa terjadi.

Selain itu, wanita terkadang memiliki siklus menstruasi yang lebih pendek atau lebih panjang. Sedangkan, sperma masih bisa bertahan beberapa hari di rongga panggul.

Berhubungan seks selama menstruasi juga meningkatkan risiko infeksi menular seksual (IMS). Karena itu, para ahli selalu menggencarkan pentingnya melakukan hubungan seks aman.

Dr Tan mengatakan ada beberapa kekhawatiran bahwa gaya hubungan seks ini bisa meningkatkan risiko virus ditularkan melalui darah menstruasi, seperti HIV dan hepatitis.

Sumber : suara.com