Viral Jasa Pengawal Sepeda Tuai Kontroversi

Jasa pengamanan pesepeda di Jakarta - Instagram @gardalocal
02 Desember 2020 18:07 WIB Ika Fatma Ramadhansari Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 membuat jumlah pehobi sepeda atau pesepeda melonjak. Maraknya jumlah pesepeda di jalanan membuat angka kriminalitas meningkat. Banyak begal yang mengincar pemilik sepeda, apalagi kini banyak sepeda mahal bahkan seharga motor atau mobil.

Situasi tersebut memunculkan geliat usaha baru. Salah satu pelaku usaha yang menggarap pasar pesepeda adalah Garda Local Security. Perusahaan ini memberikan jasa keamanan maupun fotografi untuk pada pesepeda, khususnya di Jakarta.

"Kebutuhan rasa Aman juga menjadi salah satu concern/ tujuan utama kami untuk mengurangi ke- khawatiran bagi para pengguna jalan, khusus nya para pesepeda dan Kebutuhan lapangan kerja yang diharapkan mampu untuk menambah pendapatan mereka," tulis akun Instagram @gardalocal seperti dikutip, Rabu (2/12/2020).

Dikutip melalui Instagram Garda Local Security (@gardalocal), jasa yang diberikan kepada pesepeda, antara lain staf keamanan, back-up emergency ambulance, back-up evacuation car untuk dua pesepeda, dan fotografi.

Kemudian staf lainnya akan bertambah seiring dengan banyaknya grup pesepeda yang berpartisipasi. Penambahan ini berupa satu road-captain, dan juga polisi Brigade Motor (BM).

Lantas, berapa tarif yang harus dibayar pesepeda jika ingin memakai jasa Garda Local Security?

Mengutip akun Instagram @gardalocal, ada tiga layanan yang ditawarkan, yaitu paket Safe Rp600 ribu, paket Guard Rp1,5 juta, dan paket VVIP Rp3 Juta.

Fasilitas yang didapat pesepda pun disesuaikan dengan harga. Semakin mahal tarifnya, maka semakin lengkap pula layanan yang disediakan.


Warganet Heboh

Munculnya layanan pengamanan pesepeda yang ditawarkan Garda Local ternyata menulai pro-kontra di dunia maya. Warganet yang beranggapan pelayanan ini berlebihan. Namun, ada pula netizen yang membandingkannya dengan bagaimana pesepeda di luar negeri.

Melalui Twitter akun Deny (@Denald) warga Indonesia yang bertempat tinggal di Belanda merespon penyedia jasa ini dengan menjelaskan bagaimana pengguna sepeda di Belanda.

"Di Belanda, PM Rutte ngantor sepedahan tanpa pengawal. Anak2 Raja ke sekolah sepedahan tanpa kawalan. Sepeda disini bukan untuk gaya2an. Punya jalur tersendiri. Asal ga badai, segala cuaca diterjang. Harga sepeda pun macam2, dari E5 sampai > E5000 ada. Beli sesuai kebutuhan," kicau @Denald dikutip Bisnis pada Rabu (2/12/2020).

Deny kemudian juga menyertakan beberapa foto orang bersepeda, salah satunya anak Raja Belanda Williem-Alexander dan Ratu Queen Maxima, Puteri Alexia yang menggunakan sepeda untuk pergi ke sekolah tanpa pengawal.

Warga Indonesia lain yang saat ini tinggal di Jerman Vitri Indriyani (@indria_vitri) mengungkapkan bahwa Jerman tidak memiliki pengawal khusus untuk pesepeda walaupun berombongan.

"Di jerman gak ada yang begini2an kalau naek sepeda rombongan ya tetap matuhin aturan yang berlaku, gak bikin aturan sendiri. Jalannya ttp hrs di jalur sepeda, beriringan, gak dampingan, Kalau gak ada jalur sepeda ya di jln raya, tapi dipinggir," tulis @indria_vitri.

Melihat respon ini akun Skidipap (@akbarbudhidh) kemudian menyatakan bahwa kondisi Indonesia tidak sama dengan negara lain disini ia menyebutkan Belanda.

"Yaelah, klo +62 tu jangan samain sama negri londho mas. Klo indo, presiden spedaan mah adanya di copet apalagi dibegal. Di nether aja penjara banyak yang ditutup gegara kaga ade napinya elahh," curhatnya menggunakan akun @akbarbudhidh.

Sementara itu akun Twitter septian dwi utomo (@tomoseeker) mengungkapkan bahwa jika ada yang nyinyir berkomentar menjelaskan bahwa mereka bukan target pasar penyedia jasa keamaan sepeda ini.

"Kalo banyak yg nyinyir fix, berarti kamu bukan target pasar," cuit @tomoseeker.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia