Tip Menjaga Mental Sehat dan Tetap Rasional di 2021

Ilustrasi pria stres setelah istri melahirkan. / Antara
01 Januari 2021 07:47 WIB Gloria Fransisca Katharina Lawi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Menyambut Tahun Baru 2021 salah satu resolusi yang paling banyak diharapkan adalah menjaga kesehatan mental di tengah ketidakpastian pandemi Covid-19.

Resolusi yang paling sering didoakan menyambut 2021 adalah memiliki hidup sehat nan berkualitas. Mengutip definisi dari WHO, Jumat (1/1/2021), hidup berkualitas secara umum harus mencapai beberapa aspek yakni; sehat fisik, sehat sosial, dan sehat mental.

Oleh karena itu, salah satu kunci menjaga kesehatan mental adalah dengan memilih dan menjadi bahagia. Menurut Heriani Tobing, SpKJ(K) dari Departemen Medik Kesehatan Jiwa RSCM-FKUI mengatakan merasa bahagia adalah indikator dari hidup yang berkualitas.

Lantas bagaimana caranya agar dapat sehat secara mental? Ternyata caranya sangat mudah, yaitu jika Anda bisa menjaga diri sendiri maka hidup Anda sudah selangkah lebih berkualitas. Imbasnya, hidup Anda pun bisa lebih bahagia. Misalnya dengan mau merawat diri, merawat gigi, merawat kulit, merawat berat tubuh.

Sayangnya, meski semua kriteria itu terpenuhi, dr. Heriani mengakui masih ada pasien yang mengeluhkan kondisi yang sepenuhnya tidak baik-baik saja. Misalnya, ada seorang pasien yang tidak pernah puas dengan hasil operasi plastik yang dia lakukan.

Setelah melakukan wawancara pendalaman, barulah ditemukan, alasan pasien melakukan operasi plastik adalah untuk memikat dan mengikat pasangan.

Akar permasalahan dari ketidakbahagiaan yang dialami karena si pasien sulit mempertahankan hubungan dengan pasangan.

Beberapa penyebab yang menghantui adalah disebabkan oleh apapun upaya yang dia lakukan untuk mempercantik diri, kerap kali pasangannya berselingkuh. Hal itu membuat hubungan yang dibangun terancam kandas.

Menurut teori kognitif-perilaku, seseorang menafsirkan suatu kejadian serta bereaksi terhadap sesuatu berdasarkan caranya memaknai hal tersebut. Artinya, peristiwa punya makna bagi setiap orang.

Heriani mengatakan, misalnya dalam kasus pandemi Covid-19, suasana krisis ini dimaknai sebagai kesialan bagi banyak orang. Padahal ada juga manfaat yang bisa dilihat dari masa krisis ini jika memakai cara berpikir yang lebih fleksibel.

Terbukti, banyak orang mendapatkan bisnis baru, padahal sebelumnya kerja dengan orang. Banyak juga yang awalnya fashion designer akhirnya jadi usaha kuliner.

“Artinya, kalau cara memandang masalah tidak rasional akan mengganggu dan menyebabkan masalah emosi serta perilaku,” tuturnya.

Bagaimana cara mengubah emosi dengan baik? Mau tak mau yang bisa diubah adalah dari mengubah persepsi kita.

Lalu bagaimana cara mengubah respons perilaku kita? Caranya dengan memahami penyebab dari emosi dan perasaan kita.

Oleh sebab itu menjadi penting menurut dr. Heriani agar seseorang selalu membubuhkan tanya ‘mengapa’ atas beragam respons yang dialaminya.

Dia pun menambahkan, beberapa pikiran yang tidak rasional yang memicu persepsi dan emosi memiliki ciri yang bisa dikenali.

Misalnya, pertama, pikiran tidak rasional muncul secara otomatis dan terjadi berulang-ulang. Kedua, pikiran tidak rasional itu kerap kali overgeneralized dan memiliki tekanan pada keharusan.

Beberapa contoh pikiran yang tidak rasional; pertama, menggunakan kata-kata absolut misalnya; seharusnya, pasti, tidak akan, selalu, tidak pernah, atau saya pasti berhasil.

Kedua, memberi label misalnya; saya buruk, tidak akan ada yang menyukai saya.

Ketigaunconditional, misalnya, saya tidak bisa kalau saya tidak bisa.

Keempat, melebih-lebihkan dampak. Kelima, memukul rata atau overgeneralized.

“Melatih pikiran rasional itu bukan menihilkan perasaan, tetapi menjadikan perasaan yang tidak nyaman itu lebih dirasakan tidak parah sampai mengganggu fisik,” tuturnya.

Sumber : Bisnis Indonesia