Menjadi Minimalis dan Terapkan Decluttering, Gaya Hidup Paling Cocok 2021

Sortir barang/barang yang tidak dibutuhkan di rumah dan tata ulang untuk menciptakan kenyamanan / Istimewa
02 Januari 2021 08:07 WIB Gloria Fransisca Katharina Lawi Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Salah satu gaya hidup yang diyakini bisa mencegah dan mengatasi stres adalah menjadi minimalis dan menerapkan kebiasaan decluterring pada 2021 ini.

Apa itu decluttering? Decluttering adalah kegiatan membereskan rumah dengan mengurangi barang-barang yang tidak diperlukan lagi. Cara yang biasa dilakukan adalah mendaur ulang dan mendonasikan barang.

Decluttering juga bisa membantu Anda mengurangi hawa yang kurang baik dala, rumah. Siapapun akan merasa nyaman melihat rumahnya lebih rapi, bersih, lega dan fresh. 

Menurut Co-Founder Komunitas Setali Intan Anggita Pertiwie decluttering adalah salah satu aksi dalam gaya hidup minimalis yang diyakini bisa mengurangi stres.

"Stres itu berkurang karena ibaratnya isi kamar dan isi kepala kita jadi berkurang," kata Intan kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Kamis (31/12/2020).

Senada dengan Intan, Praktisi Psikologi Positif William Budiman Sullivan mengatakan stres selama pandemi bisa disikapi dengan ragam cara.

Salah satunya saja, William menyebut tentang geliat gaya hidup minimalist yang berkembang selama pandemi sebagai gaya hidup baru dan persepsi alternatif untuk mulai membedakan apa yang benar-benar kita butuhkan, dengan apa yang membuat Anda merasa senang tanpa esensi.

Gaya hidup ini juga menjadi alternatif untuk membantu mengenal diri sendiri, membantu belajar melepas pada kemelekatan sehari-hari termasuk kemelekatan pada pikiran yang tidak rasional.

Tak hanya itu, gaya hidup ini bisa membantu seseorang membedakan mana hal-hal yang perlu dipertimbangkan, dan mana yang tidak perlu terlalu dipikirkan.

“Jadi cara ini saya mampu membantu proses berpikir kita cenderung lebih simple, fokus, sehingga kebiasaan berpikir ini kemudian membantu menjadi sehat mental,” tuturnya.

Kondisi ini membuat kesimpulan pada tahun yang akan datang, perasaan dan pikiran bisa dianalogikan sebagai tanaman. Ada tanaman yang layu, ada tanaman yang segar. Dua kondisi tanaman itu sangat tergantung dari perlakuan yang diterima pada masa lalu dan sekarang.

Meski demikian William mengingatkan risiko stres dan depresi memang tak sepenuhnya hilang. Hal itu merupakan kondisi psikologis yang dihasilkan dari banyak hal yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya.

Kondisi psikologis yang mempengaruhi itu bisa berupa masalah keluarga, masalah bisnis, masalah trauma, dan masalah kesehatan, bahkan juga kondisi genetik yang mendorong depresi, serta gabungan semua indikator itu.

Sumber : Bisnis.com