Pakar: Pemaksaan Seragam Sekolah Berdampak Pada Kesehatan Mental Siswa

Pemaksaan menggunakan seragam sekolah dengan menonjolkan atribut agam tertentu, akan berdampak pada kesehatan psikologis siswa dan siswi di sekolah negeri - Antara/Muhammad Arif Pribadi
04 Februari 2021 21:57 WIB Desyinta Nuraini Lifestyle Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -  Pemaksaan menggunakan seragam sekolah dengan atribut agama tertentu di sekolah seperti yang terjadi di SMK Negeri 2 Padang bisa menimbulkan dampak besar bagi psikologis siswa yang mengalaminya.

Psikolog Lusiana Bintang Siregar mengatakan pemaksaan yang tidak sesuai ketentuan akan menimbulkan gangguan kesehatan mental pada peserta didik, membuat peserta didik kesulitan untuk mengikuti pelajaran, ataupun mengalami tekanan dari lingkungan sosial pendidikannya.

Dia menerangkan, peserta didik dari sekolah dasar hingga menengah memiliki rentang usia 6-18 tahun. Pada Usia ini secara psikologis, ada tugas-tugas perkembangan seperti mengembangkan rasa inisiatif, mengembangkan keterampilan sosial, dan akademis hingga mengembangkan kepribadian dengan penemuan identitas diri di masa remaja.

Tugas-tugas perkembangan ini dipengaruhi juga oleh interaksi sosial mereka. Dengan adanya pemaksaan, tentu tugas-tugas perkembangan ini akan terganggu.

Alih-alih mengembangkan inisiatif, mereka malah mengembangkan perasaan bersalah karena berbeda dengan yang lain, menjadi tidak fokus atau tidak konsentrasi dalam mengembangkan kemampuan atau kompetensi.

"Lebih lanjut lagi bisa pada kebingungan identitas dan bingung bagaimana mereka harus berperan dalam sosial serta kesulitan menghargai perbedaan," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (4/2/2021).

Belum lagi karena pemaksaan ini menjadi bahan perundungan atau bullying dan mengembangkan mental saling menyalahkan.

"Tentu semua kondisi ini menyebabkan trauma dan ada kegagalan menjalani tugas-tugas perkembangan mereka dan masalah atau gangguan psikologis lainnya," tegas Lusiana.

Oleh karena itu, perlu sikap arif dari semua pihak dalam memperhatikan psikologi peserta didik dalam proses belajar mengajar. Tanpa ada diskriminasi atau pemaksaan atribut tertentu saja, akan banyak persoalan psikologis yang dihadapi peserta didik saat belajar dalam situasi pandemi ini.

Misalnya soal pendidikan jarak jauh yang banyak menimbulkan stress bagi peserta didik bahkan keluarga, atau soal metode pembelajaran yang sulit diterima beberapa siswa karena perbedaan tingkat kecerdasan intelektual.

Lusiana berpendapat sekolah semestinya menjadi tempat peserta didik bisa mengembangkan diri dan potensinya tanpa pemaksaan, agar mereka bisa mencapai tujuan pendidikan itu sendiri dengan lebih baik.

Pihak sekolah terlebih lagi pemerintah perlu memperhatikan dimensi psikologi dalam proses pendidikan dan bila perlu menghadirkan tenaga psikolog sekolah untuk menjawab kebutuhan siswa.

Adanya pemaksaan atribut sekolah yang terjadi di Padang, Lusiana berharap agar siswa yang bersangkutan mendapatkan pendampingan psikolog untuk memulihkan kepercayaan diri dan kesehatan mentalnya.

Di sisi lain, Lusiana menyambut positif untuk SKB 3 Menteri yang baru dikeluarkan. "SKB itu sesuatu yang positif untuk menjernihkan soal aturan yang harus dipegang seluruh lembaga pendidikan negeri agar tidak ada perbedaan tafsir," tandasnya.

Sumber : Bisnis.com